Kasus pembunuhan disertai mutilasi di Samarinda yang menewaskan seorang wanita berusia 35 tahun akhirnya mulai terungkap. Polisi menyebut aksi keji ini dilakukan oleh suami siri dan ibu angkat korban sendiri. Lantas, apa yang mendorong mereka?
Kapolresta Samarinda, Kombes Hendri Umar, membeberkan dua motif utama yang mendasari kekejaman tersebut. Rupanya, ada dendam dan keserakahan yang berpadu jadi satu.
“Pelaku melakukan ada dua motifnya. Yang pertama, merasa sakit hati dengan tuduhan-tuduhan dari korban yang menyatakan bahwa kedua pelaku ini telah selingkuh dan telah melakukan hubungan badan berkali-kali,”
ujar Hendri dalam konferensi pers di Mapolresta Samarinda, Minggu (22/3/2026).
Nah, selain soal sakit hati, ada motif lain yang lebih materialistis. Kedua pelaku diduga mengincar harta benda milik korban.
“Motif yang kedua juga untuk menguasai barang-barang yang dimiliki oleh korban. Baik itu berupa kendaraan bermotor maupun alat komunikasi berupa handphone dan alat-alat berharga lainnya,”
lanjutnya menerangkan.
Yang bikin dingin, rencana ini ternyata bukan dibuat dalam semalam. Menurut penjelasan Hendri, sejak Januari 2026 kedua tersangka sudah menyusun segalanya dengan matang. Mereka bahkan sampai melakukan survei lokasi untuk membuang jenazah korban nantinya.
“Sejak bulan Januari 2026 disampaikan bahwa kedua pelaku ini sudah melakukan perencanaan. Bahkan mereka sudah melakukan survei untuk nanti lokasi pembuangan jenazah korban ini setelah dieksekusi,”
katanya.
Jadi, gabungan antara amarah yang mendidih dan nafsu menguasai harta, ditambah perencanaan yang runut, akhirnya memicu tragedi mengerikan ini. Kasus ini masih terus diselidiki lebih lanjut.
Artikel Terkait
Lampu Jalan di Cipinang Muara Kembali Menyala Usai Dicuri, Pelaku Masih Buron
Tim BPTD dan Dishub Turun ke Lokasi Kecelakaan Maut Bus ALS di Muratara, Izin Angkutan Ternyata Sudah Kedaluwarsa
Prabowo Tiba di KTT ASEAN ke-48 di Filipina, Gunakan Mobil Maung Garuda sebagai Simbol Diplomasi Industri Nasional
Psikolog TNI Sebut Empat Terdakwa Penyerangan Air Keras ke Aktivis KontraS Masih Layak Jadi Prajurit