Meski hiruk-pikuk arus balik Lebaran mulai terasa, ada satu hal yang justru diam tak bergerak: harga bahan bakar minyak di pom bensin. Padahal, di belahan dunia lain, konflik antara AS-Israel dan Iran sudah memicu gejolak harga minyak mentah yang cukup signifikan. Tapi di sini, di Jakarta dan sekitarnya, angka-angka di papan SPBU Pertamina, Shell, bp, dan Vivo masih bertahan di posisi yang sama sejak awal Maret lalu.
Kalau lihat dari laman resmi Pertamina, Senin kemarin, seri Pertamax dan Pertamina Dex harganya memang masih stabil. Buat yang penasaran, ini rinciannya per liter di Jakarta: Pertalite tetap Rp 10.000, solar subsidi Rp 6.800. Untuk yang non-subsidi, Pertamax dijual Rp 12.300, sementara Pertamax Turbo Rp 13.100. Ada juga Pertamax Green di angka Rp 12.900. Untuk diesel, Dexlite Rp 14.200 dan Pertamina Dex Rp 14.500.
Lalu bagaimana dengan operator lain? Meski sempat ada kabar soal kelangkaan stok, harga di SPBU Shell juga tak berubah sejak Maret. Shell Super masih Rp 12.390 dan V-Power Diesel Rp 14.620 per liter.
Kondisi serupa terpantau di SPBU bp. Harganya stabil dibandingkan catatan awal bulan lalu. BP Ultimate dijual Rp 12.930, BP 92 di angka Rp 12.390, dan BP Ultimate Diesel Rp 14.620.
Sementara itu, di SPBU Vivo, harga Revvo 92 dan 95 masing-masing Rp 12.390 dan Rp 12.930. Untuk Diesel Primus, harganya Rp 14.610 per liter. Semua tak berubah.
Ini menarik, lho. Soalnya, situasi di pasar global justru panas. Harga minyak dunia melonjak setelah serangan AS dan Israel ke Iran. Gejolak ini langsung berimbas ke sejumlah negara tetangga. Singapura, Filipina, Malaysia, dan Thailand sudah menyesuaikan harga BBM mereka.
Menurut The Straits Times, di Singapura cuma butuh tiga hari setelah konflik pecah untuk menaikkan harga bensin. Bahkan, harganya sekarang disebut-sebut sudah melampaui level saat krisis Ukraina di 2022 lalu. Shell di sana, pekan lalu, sudah menaikkan harga bensin oktan-95, oktan-98, V-Power, dan solar masing-masing 7 sen.
Filipina juga tak kalah. Departemen Energi mereka memperkirakan kenaikan harga minyak domestik yang cukup tajam, sekitar PHP 23,9 atau setara Rp 6.805 per liter. Kenaikan ini rencananya diterapkan bertahap mulai Selasa, 17 Maret.
Lalu, apa yang dilakukan Indonesia? Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengaku pemerintah sedang mengkaji langkah untuk menekan konsumsi BBM. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah mengembalikan skema kerja dari rumah atau WFH.
“Sedang dikaji, tentang apakah kita membutuhkan WFH. Tetapi menurut saya, semua kemungkinan itu bisa terjadi. Yang penting adalah penghematan terhadap BBM,"
kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3).
Artikel Terkait
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Jika AS Serang Pembangkit Listriknya
Macet Parah H+2 Lebaran, Arus Kendaraan ke Puncak Naik 35%
Puncak Arus Balik Lebaran 2026, KAI Daop 1 Jakarta Catat 51.000 Penumpang Tiba per Hari
Pemerintah Rencanakan Aturan Kerja dari Rumah Satu Hari Seminggu Usai Lebaran