Keyakinannya ternyata punya dasar. Program serupa, katanya, sudah dijalankan di lebih dari 100 negara. Indonesia adalah negara ke-77 yang memulainya. Bahkan, lembaga internasional seperti Rockefeller Institute dan World Food Programme (WFP) PBB pun memberi perhatian khusus.
"Saya didatangi Rockefeller Institute dari Amerika Serikat datang ngecek kita punya SPPG dan dia datang ke saya," kisah Prabowo. "Dia mengatakan, 'This is the best investment, Mr. President, you have made the best'. Do you know why? Karena satu dolar di-spend di MBG the return is between 7 and 35, in the long run 35, in the short run 7 dollar."
Menurutnya, ini soal investasi sumber daya manusia. "Jadi this is strategic, ini untuk human capital kita ya. Jadi masih banyak penghematan lain yang riil yang kita bisa lakukan. Kita sudah exercise, kita sudah melakukan penghematan di banyak bidang ya," paparnya.
Namun begitu, ia tak menutup mata. Pelaksanaan di lapangan memang belum sempurna. Pemerintah sendiri sudah menindak tegas, termasuk menutup lebih dari seribu titik layanan yang dinilai melenceng dari aturan.
"Bahwa ada kekurangan ini kita tindak. Saya sudah katakan ada 1.000 lebih yang sudah kita tutup. Iya kan?" ujarnya.
Ada juga persoalan budaya yang harus diakui. "Tapi yang yang sedih kalau dia bungkus untuk bawa pulang. Nah, tapi ini ini juga ya bagaimana kita harus yakinkan mereka cuci tangan kalau mau makan pakai tangan. Ini kita sudah bagi sendok-sendok plastik tapi ya. Tapi benar pelanggaran kita kejar," tambahnya, menggambarkan kompleksitas di lapangan.
Jadi, intinya program ini tetap jalan. Meski tekanan anggaran membayang, Prabowo memilih bertahan. Baginya, ini soal memberi makan rakyat dan membangun masa depan.
Artikel Terkait
Mobil Terbalik di Depan LP Cipinang, Tidak Ada Korban Jiwa
Polisi Ungkap Motif Cemburu dan Harta di Balik Mutilasi Perempuan Samarinda
Israel Lancarkan Serangan Besar-besaran ke Lebanon Selatan, Presiden Aoun Peringatkan Ancaman Invasi
Buka Tutup Akses MBZ Diterapkan Lagi Atasi Kemacetan Mudik