Hari Raya Idulfitri memang kerap diidentikkan dengan momen saling memaafkan. Tapi, tahukah Anda? Lebih dari sekadar tradisi tahunan, tindakan memaafkan itu sendiri ternyata punya kekuatan luar biasa untuk menyembuhkan luka batin kita.
Miftakhul Jannah, seorang dosen Psikologi di Unesa, punya penjelasan menarik soal ini. Menurutnya, memaafkan bukan cuma basa-basi sosial belaka. Itu adalah sebuah transformasi emosi yang nyata. Proses ini mengubah sisa-sisa kepahitan menjadi ketenangan, yang akhirnya membuat kita lebih mampu beradaptasi dengan kehidupan.
“Jika dibiarkan, pola pikir rumination dapat memicu stres kronis dan beban emosional yang berat,” jelas Mifta, seperti dikutip dari laman kampusnya.
Ia melanjutkan, “Sebaliknya, individu yang mampu memaafkan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, emosi yang lebih stabil, serta kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi.”
Nah, dalam pandangan psikologi, apa yang terjadi sebenarnya? Tradisi saling memaafkan ini berfungsi sebagai katarsis, sebuah pelepasan beban emosi yang sudah lama terpendam. Suasana spiritual Lebaran menciptakan ruang yang pas untuk refleksi. Di momen seperti inilah, empati bisa tumbuh lebih subur, entah untuk mempererat hubungan atau justru memulihkan ikatan yang sempat rusak.
Dampaknya langsung terasa pada kesehatan mental. Saat seseorang memilih melepaskan dendam, cara pandangnya terhadap masa lalu yang pahit pun bergeser. Ini secara efektif memutus siklus ‘rumination’ kebiasaan melelahkan dimana pikiran negatif terus berputar-putar di kepala tanpa henti.
Memang, jalan untuk memaafkan seringkali tidak mudah. Miftakhul Jannah mengakui hal itu. Kedalaman luka dan sejarah hubungan tiap orang sangatlah personal, membuat proses ini bisa terasa seperti pendakian yang terjal.
Namun begitu, ia menekankan satu hal penting: memaafkan sama sekali bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain. Bukan. Ini lebih kepada sebuah keputusan berani untuk mengambil alih kendali. Keputusan untuk tidak membiarkan kenangan buruk mengacaukan ketentraman jiwa kita hari ini dan esok.
Dengan memaknai ulang pengalaman pahit itu, kita perlahan bisa meletakkan beban dari pundak sendiri. Menyimpan amarah dalam waktu lama itu ibaratnya memikul karung batu yang tak kasatmata. Risikonya bisa berat, mulai dari kelelahan mental hingga gejala depresi.
Pada akhirnya, memaafkan adalah bentuk kedaulatan diri. Sebuah cara untuk mengelola tekanan dengan mengatur respons emosi kita sendiri.
“Ketika memaafkan dilakukan dengan tulus, hal ini tidak hanya merajut kembali tali silaturahmi,” pungkas Mifta.
“Tetapi merupakan hadiah paling berharga bagi diri sendiri agar bisa melangkah dengan lebih ringan, tenang, dan sejahtera secara psikologis.”
Artikel Terkait
Ekonomi RI Kuartal I Tumbuh 5,61 Persen, Menkeu Sebut Indonesia Mulai Lepas dari Jerat Pertumbuhan 5 Persen
MUI Kecam Keras Pemerkosaan Santriwati oleh Pimpinan Ponpes di Pati
Presiden Prabowo Perintahkan Penelusuran Celah Korupsi Program Makan Bergizi Gratis
PBB Sambut Gencatan Senjata Sepihak Ukraina dan Rusia pada Awal Mei