Beberapa orang kemudian bergegas mencari sang sopir. Tak butuh waktu lama, pria itu ditemukan dan mendatangi truknya dengan wajah masam, masih menyimpan kekesalan yang jelas terpancar.
Saat sejumlah wartawan mendekat dan menanyai, sopir itu mengeluarkan unek-uneknya. Katanya, truknya ditolak naik oleh petugas pelabuhan. Kenapa ditolak? Ia enggan menjelaskan panjang lebar.
"Ditolak, tanya ke yang nolak," jawabnya singkat, ketus.
Rupanya, itulah puncak dari penantian panjangnya. Sudah tiga hari ia terombang-ambing di pelabuhan, dan penolakan itu adalah titik puncaknya. Alat berat yang diangkutnya disebut-sebut melebihi batas ketinggian yang diizinkan kapal. Itu alasan penolakannya.
"Ditolak, nggak tahu siapa yang nolak. Udah 3 hari di sini. Sengaja (diparkir melintang)," ujarnya lagi, mengakui aksinya memang disengaja sebagai bentuk protes.
Setelah suasana agak mereda dan Menteri Dudy meninggalkan lokasi, akhirnya ada titik terang. Truk beserta alat berat itu kemudian diarahkan oleh petugas ke dermaga lain. Di sana, kapal jenis LCT yang lebih sesuai menunggu. Masalah selesai, tapi kesal yang tertanam di benak sopir itu, mungkin butuh waktu lebih lama untuk menghilang.
Artikel Terkait
Ancaman Pencabutan Lisensi FCC Picu Perpecahan di Tubuh Partai Republik
Kebijakan WFA Libur Lebaran 2026 Langsung Sepatkan Stasiun Palmerah
Mimpi Jadi Anggota Mafia Dikaitkan dengan Perasaan Terkendali dan Tekanan Sosial
Bus PO Anugerah Terperosok ke Jurang di Lahat, Evakuasi Berlangsung Dini Hari