Jakarta Selatan punya magnet baru buat para pencinta otomotif. Vault Automotive Museum Cafe baru-baru ini mendapat apresiasi dari anggota DPR RI, Bambang Soesatyo. Menurut Bamsoet sapaan akrabnya tempat ini bukan cuma sekadar kafe biasa. Ia melihatnya sebagai sebuah destinasi yang bisa memperkaya pilihan wisata kota, sekaligus menguatkan ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata. Yang tak kalah penting, museum ini juga berperan dalam melestarikan sejarah otomotif nasional.
“Saat datang ke museum cafe ini, sebelum ngopi-ngopi dan hangout, pengunjung diajak melihat langsung perjalanan desain, teknologi, dan karakter kendaraan dari berbagai era,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (1/2/26).
“Ini penting agar masyarakat memahami bahwa industri otomotif berkembang melalui proses panjang, penuh inovasi, dan sarat nilai sejarah.”
Bangunannya sendiri terdiri dari tiga lantai, masing-masing punya fungsi unik. Lantai dasar memamerkan mobil-mobil klasik dari berbagai dekade, mulai era pascaperang hingga tahun 90-an. Naik ke lantai dua, suasana berganti. Di sana, deretan motor vintage memanjakan mata, termasuk beberapa unit yang sangat langka dan jarang dipamerkan. Nah, buat yang mau bersantai, lantai tiga siap menyambut sebagai area kafe yang nyaman.
Bamsoet punya pandangan optimis. Ia bilang, di banyak negara, museum otomotif sudah lama jadi magnet wisata sekaligus pusat edukasi yang seru.
“Vault Automotive Museum Cafe sudah berada di jalur yang tepat ke arah itu. Koleksi mobil dan motor klasik yang dipamerkan memiliki nilai historis tinggi, bahkan beberapa masuk kategori langka dan sulit ditemui di tempat lain,” ucapnya.
Kekuatan utamanya, menurut dia, ada pada kurasi koleksi dan narasi sejarah yang terasa “hidup”. Setiap kendaraan membawa ceritanya sendiri tentang evolusi teknologi, perubahan desain, hingga konteks sosial ekonomi pada masanya. Alhasil, pengunjung diajak melihat mobil dan motor klasik bukan hanya sebagai besi tua, melainkan sebagai artefak peradaban yang punya jiwa.
Ke depan, Bamsoet berharap ada kolaborasi yang lebih luas. Misalnya, dengan institusi pendidikan, komunitas otomotif, atau pemerintah daerah.
“Program tur pelajar, diskusi sejarah otomotif, hingga pameran tematik dapat memperkuat peran museum sebagai pusat literasi otomotif,” pungkasnya.
Dengan begitu, fungsi edukatif tempat ini bisa makin meluas dan memberi dampak yang lebih dalam.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi