Aceh Tamiang – Sudah hampir dua bulan berlalu sejak banjir bandang menerjang. Tapi jejaknya masih nyata terlihat. Di sejumlah lokasi di Aceh Tamiang, timbunan lumpur hitam masih berserakan, mengering di terik matahari, menjadi pengingat betapa dahsyatnya bencana waktu itu.
Upaya pembersihan memang terus digenjot. BUMN Karya dan PTPN mengerahkan alat berat serta pekerja, dibantu oleh aparat TNI. Namun, pekerjaan itu ternyata tak semudah yang dibayangkan. Tumpukan lumpur yang menimbun rumah-rumah warga, bangunan, dan fasilitas umum lainnya belum juga tuntas dibersihkan. Rasanya, butuh waktu lebih lama lagi.
Di Kuala Simpang, pusat kota, suasana gotong royong masih terasa. Para pekerja dadakan dari BUMN Karya bahu-membahu dengan seragam hijau TNI. Mereka menyekop, mengangkut, berusaha mengembalikan wajah kota. Suara mesin alat berat dan truk pengangkut menderu, sibuk mengeruk sisa-sisa lumpur yang mengeras. Pemandangan ini jadi pemandangan sehari-hari sekarang.
Arifin, salah satu tokoh masyarakat yang terlibat dalam distribusi bantuan, mengakui bahwa tenaga yang ada memang belum cukup.
"Cuma mengandalkan tenaga dari BUMN Karya ya kurang. Makanya, pimpinan Danantara, Bapak Dony Oskaria, langsung bergerak. Dia mengerahkan tambahan tenaga dari pekerja PTPN untuk bantu di sini," jelasnya, Jumat lalu.
Sementara itu, suasana berbeda terlihat di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak. Lokasinya agak terpencil, jauh dari keramaian pusat kota. Di sini, tantangannya lain lagi. Alat berat tidak hanya berurusan dengan lumpur, tapi juga dengan gelondongan kayu ukuran besar yang terbawa longsor dari bukit. Kayu-kayu itu berserakan, memblokir jalan dan area permukiman.
Di sekitar Masjid Nurussalam, tumpukan kayu itu mulai sedikit demi sedikit disingkirkan. Di pelatarannya, kini berdiri tenda besar BNPB. Keberadaan tenda itu menandai fase baru pemulihan.
Sebelum BNPB datang, yang ada cuma tenda dari relawan Wahana Muda Indonesia (WMI). Mereka adalah yang pertama tiba. Bersama warga, mereka membersihkan lumpur yang memenuhi dalaman masjid. Butuh kerja keras, tapi akhirnya masjid itu bisa digunakan kembali.
Dan Masjid Nurussalam ini bukan bangunan biasa. Dia adalah satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh saat banjir bandang melanda Lubuk Sidup. Dulu, ia jadi tempat perlindungan sementara bagi warga yang kehilangan segalanya. Kini, masjid itu lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia jadi simbol harapan, pengingat akan kebersamaan yang menyelamatkan.
Handriansyah, Ketua Umum WMI, menceritakan bahwa organisasinya telah melakukan program pendampingan intensif bagi penyintas di desa tersebut.
Mereka mendirikan tenda hunian sementara, posko kesehatan, MCK, hingga memasang pipa air bersih. Bantuan juga berupa family kit, perlengkapan masak, kompor gas, sampai peralatan bangunan seperti gergaji dan paku untuk memulai kembali.
"Selain di Aceh Tamiang, kami juga buka posko di Aceh Timur, Bireun, dan Pidie Jaya. Rencananya, program bantuan akan kami perluas lagi ke Bener Meriah dan Takengon," ujar Handriansyah.
Perjalanan pemulihan Aceh Tamiang masih panjang. Lumpur mungkin perlahan hilang, tapi bekas luka di hati warga butuh waktu lebih lama untuk sembuh.
Artikel Terkait
Tabrakan Frontalka Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jalur Kereta Lumpuh Total
Harga Minyak Goreng Meroket, INDEF Ungkap Lonjakan Biaya Plastik Kemasan Ikut Jadi Pemicu
Dudung Abdurachman Dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Siap Buka Kanal Aduan 24 Jam dan Pangkas Birokrasi
Polisi Kerahkan 1.200 Personel Amankan Peringatan May Day di Makassar