Praktik penghindaran pajak oleh perusahaan asing masih jadi masalah serius di Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tak menampik hal itu. Bahkan, ia menyebut sektor tertentu jadi lahan basah untuk modus semacam ini.
Menurutnya, sektor baja dan bahan bangunan adalah yang paling mencolok. Uniknya, mayoritas pelakunya adalah perusahaan-perusahaan asal China. Data soal ini sebenarnya sudah ada di tangan Kementerian Keuangan. Modusnya terbilang klasik tapi efektif: jual produk langsung ke klien, pembayaran tunai, dan yang paling parah tanpa memungut atau menyetorkan PPN sama sekali. Akibatnya? Kerugian negara yang jumlahnya fantastis.
“Pajak juga banyak industri liar yang nggak kena pajak, yang saya tahu baja dan bahan bangunan ya pengusahanya dari China, punya perusahaan di sini, orang China semua, nggak bisa bahasa Indonesia,” ujar Purbaya, Jumat lalu.
Ia tak main-main menyebut praktik cash based ini merugikan negara secara signifikan. Komitmen untuk menindak tegas pun digaungkan. “Jual langsung ke klien cash bases, enggak bayar PPN, saya rugi banyak itu. Nanti kita tindak dengan cepat,” tegasnya.
Nah, yang bikin miris, besaran potensi kerugiannya. Dari pengakuan pelaku usaha yang sudah ‘insaf’ dan patuh pajak, Purbaya menyebut angka yang menguap bisa mencapai lebih dari Rp4 triliun per tahun. Jumlah yang sangat besar, sekaligus cermin betapa pengawasan selama ini terasa jompo.
Artikel Terkait
Pertamina Enduro Juara Proliga Usai Drama Lima Set Melawan PLN
Stuttgart Hajar Hamburg 4-0 dalam Dominasi Mutlak di Bundesliga
Satgas Cartenz 2026 Ungkap Ladang Ganja 226 Batang di Pegunungan Bintang
IHSG Melonjak 2,07%, Catat Kenaikan Mingguan Lebih dari 6%