AS dan Iran Saling Bantah Klaim Capai Nota Kesepahaman Awal soal Gencatan Senjata dan Nuklir

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:10 WIB
AS dan Iran Saling Bantah Klaim Capai Nota Kesepahaman Awal soal Gencatan Senjata dan Nuklir

Amerika Serikat dan Iran mengeluarkan pernyataan yang saling bertolak belakang terkait perkembangan terbaru upaya pengakhiran konflik di antara kedua negara. Klaim dari satu pihak langsung dibantah pihak lainnya, menandakan masih adanya ketegangan meskipun proses negosiasi tengah berlangsung.

Sumber-sumber pejabat Amerika Serikat mengklaim bahwa para negosiator kedua negara telah mencapai nota kesepahaman sementara. Kesepakatan awal tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari serta kerangka kerja untuk perundingan nuklir. Menurut sumber tersebut, dokumen itu kini tinggal menunggu persetujuan akhir Presiden Donald Trump untuk dapat diumumkan secara resmi.

Namun, otoritas di Iran dengan tegas membantah klaim tersebut. Pemerintah Iran menegaskan bahwa nota kesepahaman antara kedua negara belum mencapai tahap finalisasi sama sekali. Pernyataan kontradiktif ini muncul di tengah meningkatnya spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri Washington dan Teheran.

Sumber-sumber Amerika yang mengetahui jalannya negosiasi, sebagaimana dilaporkan oleh Al Arabiya dan Anadolu Agency pada Jumat (29/5/2026), mengatakan bahwa nota kesepahaman atau MoU memang telah tercapai di tingkat teknis. Meskipun demikian, Trump menginginkan waktu tambahan sebelum mengambil keputusan akhir. Laporan dari media terkemuka AS, Axios, yang juga mengutip sumber serupa, menyebutkan bahwa presiden belum memberikan persetujuan akhir, kendati para negosiator dari kedua negara telah menyelesaikan sebagian besar persyaratan.

Laporan tersebut merinci bahwa para negosiator Amerika telah memberikan pengarahan kepada Trump mengenai proposal yang ada. Namun, presiden meminta waktu beberapa hari untuk mempertimbangkannya sebelum mengambil langkah definitif.

“Presiden menyampaikan kepada para mediator bahwa dia ingin beberapa hari untuk memikirkannya,” ujar seorang pejabat AS seperti dikutip oleh Axios.

Di sisi lain, para pejabat AS yang menjadi sumber Axios menyebutkan bahwa negosiator Iran telah memberitahu para mediator bahwa mereka telah memperoleh persetujuan yang diperlukan dari pihak Teheran dan siap untuk menandatangani perjanjian tersebut. Hingga saat ini, Iran belum secara terbuka mengonfirmasi klaim tersebut.

Menurut sumber-sumber Amerika, kerangka kerja awal perjanjian itu akan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengupayakan pengembangan senjata nuklir. Selain itu, pembicaraan juga akan dimulai mengenai penyerahan pasokan uranium yang telah diperkaya tinggi. Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz dan mulai menyingkirkan ranjau laut yang dipasang di jalur perairan strategis tersebut.

Sementara itu, selama periode 60 hari yang diusulkan, Washington akan mulai melonggarkan sanksi-sanksi. Langkah ini mencakup pengurangan pembatasan ekspor minyak Iran serta pembahasan mengenai pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan. Berdasarkan nota kesepahaman tersebut, militer AS juga akan mengakhiri blokade laut terhadap Iran. Pemerintahan Trump pun akan berupaya untuk mengakhiri perang di Lebanon yang melibatkan Israel dan kelompok Hizbullah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar