Di ruang sidang Istana Negara, Jumat (13/3/2026), suasana terasa serius. Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna dengan satu isu besar di atas meja: perang yang berkecamuk di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Sudah dua pekan konflik itu berlangsung, dan dunia menahan napas.
Prabowo mengawali dengan harapan. Ia bilang, skenario terburuk yang banyak dibayangkan orang mungkin kita semua semoga tak terjadi. Tapi nada suaranya tak sepenuhnya optimis. Ada kekhawatiran yang nyata.
Indonesia, menurutnya, masih dalam kondisi relatif aman. Namun begitu, presiden mengingatkan seluruh jajarannya untuk tidak lengah. “Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek,” tegas Prabowo. Pesannya jelas: kewaspadaan adalah kunci.
Lalu, bagaimana dampak riilnya bagi perekonomian kita? Di situlah laporan dari para menteri mulai masuk. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua DEN Luhut Pandjaitan memaparkan analisis mereka. Intinya, situasi ini berpotensi menggoyang anggaran negara.
Artikel Terkait
Kakorlantas Ancam Tindak Tegas Truk Over Dimensi Selama Operasi Ketupat
Pemerintah Ingatkan Kolaborasi Daerah Kunci Cegah Ulangan Krisis Polusi Jakarta 2023
AS Tegaskan Jatuhnya Pesawat Tanker KC-135 di Timur Tengah Bukan Serangan Musuh
Imsak Jakarta dan Kepulauan Seribu Pukul 04.33 WIB Hari Ini