Artinya, impor hanya akan dilakukan untuk menutupi selisih antara kebutuhan minyak mentah nasional dan kemampuan produksi atau lifting dalam negeri. Minyak mentah itulah yang nantinya akan diolah di dalam negeri.
Bahlil lantas memberi contoh konkret. Ia menyebut proyek pengembangan kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan yang sudah diresmikan Presiden. Keberadaan kilang itu, menurutnya, sudah memberikan dampak positif.
Katanya, kilang Balikpapan itu berhasil membantu menekan impor energi. Angkanya cukup besar: impor bensin berkurang sekitar 5,5 juta ton dan solar sekitar 3,5 juta ton.
Di sisi lain, pemerintah juga tak hanya fokus pada pengolahan. Strategi diversifikasi sumber pasokan minyak mentah terus digencarkan. Selama ini, kita tahu sebagian besar crude impor berasal dari kawasan Timur Tengah. Tapi pasokan dari negara lain seperti Angola, Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, dan Malaysia juga terus dijajaki.
Langkah-langkah ini bukan tanpa alasan. Semua dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional. Tujuannya satu: memastikan pasokan energi tetap stabil meski pasar global terus bergolak.
Artikel Terkait
Hari Pertama Operasi Ketupat 2026 Berjalan Lancar, Arus Lalu Lintas Terkendali
Pikap Tertabrak KRL di Perlintasan Tanpa Palang Pintu di Parung Panjang
Wild & Fiery Tayang, Tawarkan Drama Perebutan Tahta dan Balas Dendam Keluarga
Indonesia Harapkan Suksesi Pemimpin Iran Buka Jalan Perdamaian di Timur Tengah