Pertama, ketahanan energi nasional harus diperkuat. Perbesar cadangan strategis, diversifikasi sumber impor minyak, dan yang paling krusial: percepat pengembangan energi domestik.
Kedua, percepat hilirisasi industri strategis. Fokus pada sektor mineral, petrokimia, pupuk, dan energi. Tujuannya jelas: menahan nilai tambahnya di dalam negeri.
Ketiga, perkuat ketahanan pangan. Tingkatkan produksi domestik, kukuhkan cadangan pangan pemerintah, dan bangun industri pupuk serta bahan baku pertanian kita sendiri.
Keempat, dorong industrialisasi nasional dengan pendekatan seperti "Sumitronomics". Bangun industri dasar, industri mesin, dan manufaktur bernilai tinggi untuk kurangi ketergantungan impor.
Dan terakhir, tingkatkan kewaspadaan keamanan. Awasi potensi mobilisasi kelompok radikal yang mungkin memanfaatkan konflik luar negeri untuk ciptakan instabilitas di dalam negeri.
Sebuah Momentum yang Harus Ditangkap
Jadi, krisis geopolitik di Timur Tengah ini bukan cuma ancaman. Ia juga bisa jadi momentum strategis bagi Indonesia untuk bertransformasi. Momentum menuju industrialisasi dan kemandirian ekonomi yang sesungguhnya.
Jika peluang ini bisa dimanfaatkan dengan tepat lewat hilirisasi dan penguatan ekonomi nasional maka krisis global justru bisa jadi katalis. Katalis untuk menerapkan strategi pembangunan ekonomi yang mandiri dan berdaulat, sebagaimana pernah digagas para pendiri bangsa.
Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, Kepala Badan Intelijen Negara (2001-2004)
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing