Krisis Timur Tengah Picu Ancaman dan Peluang bagi Ekonomi Indonesia

- Jumat, 13 Maret 2026 | 00:45 WIB
Krisis Timur Tengah Picu Ancaman dan Peluang bagi Ekonomi Indonesia

Pertama, ketahanan energi nasional harus diperkuat. Perbesar cadangan strategis, diversifikasi sumber impor minyak, dan yang paling krusial: percepat pengembangan energi domestik.

Kedua, percepat hilirisasi industri strategis. Fokus pada sektor mineral, petrokimia, pupuk, dan energi. Tujuannya jelas: menahan nilai tambahnya di dalam negeri.

Ketiga, perkuat ketahanan pangan. Tingkatkan produksi domestik, kukuhkan cadangan pangan pemerintah, dan bangun industri pupuk serta bahan baku pertanian kita sendiri.

Keempat, dorong industrialisasi nasional dengan pendekatan seperti "Sumitronomics". Bangun industri dasar, industri mesin, dan manufaktur bernilai tinggi untuk kurangi ketergantungan impor.

Dan terakhir, tingkatkan kewaspadaan keamanan. Awasi potensi mobilisasi kelompok radikal yang mungkin memanfaatkan konflik luar negeri untuk ciptakan instabilitas di dalam negeri.

Sebuah Momentum yang Harus Ditangkap

Jadi, krisis geopolitik di Timur Tengah ini bukan cuma ancaman. Ia juga bisa jadi momentum strategis bagi Indonesia untuk bertransformasi. Momentum menuju industrialisasi dan kemandirian ekonomi yang sesungguhnya.

Jika peluang ini bisa dimanfaatkan dengan tepat lewat hilirisasi dan penguatan ekonomi nasional maka krisis global justru bisa jadi katalis. Katalis untuk menerapkan strategi pembangunan ekonomi yang mandiri dan berdaulat, sebagaimana pernah digagas para pendiri bangsa.

Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, Kepala Badan Intelijen Negara (2001-2004)

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar