Tak berhenti di pelatihan, Kemenag juga berinovasi. Mereka mengintegrasikan kurikulum etika digital ke dalam pelajaran agama. Bahkan teknologi AI diperkenalkan lewat program "Santri Mahir AI" dan pembuatan konten edukatif ramah anak. Intinya, anak-anak tak cuma ditunggu sampai usianya cukup, tapi juga dibekali kecakapan intelektual sebelum bersentuhan dengan media sosial.
"Kemandirian dan keberlanjutan perlindungan ini memerlukan sinergi. Kemenag telah menjalin kolaborasi dengan Kemkomdigi melalui Nota Kesepahaman untuk memastikan gerakan beragama yang ramah dan santun, juga terefleksi di ruang digital," ungkap Menag.
Ke depan, ada dua fokus yang akan diintensifkan. Pertama, memanfaatkan jaringan penyuluh agama yang luas untuk mengedukasi keluarga. Poinnya soal pengasuhan anak di era digital dan pentingnya menunda akses anak ke ruang digital.
Kedua, memperkuat program Madrasah Ramah Anak dan Pesantren Ramah Anak. Program ini bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, sekaligus membatasi penggunaan teknologi digital yang tidak sesuai usia.
"Kami segera siapkan rencana aksinya untuk mengefektifkan perlindungan anak di ruang digital," tandasnya.
Melalui langkah-langkah proaktif ini, harapannya PP TUNAS bisa berjalan maksimal dan berdampak jangka panjang. Dengan memperkuat literasi digital sejak dini di sekolah dan pesantren, Kemenag optimis anak Indonesia akan tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang tak cuma unggul dan berakhlak, tapi juga cerdas memanfaatkan teknologi.
Biro Humas dan Komunikasi Publik
Artikel Terkait
Kapolri Tinjau Persiapan Pengamanan Mudik 2026, Soroti Aturan Lalin dan Stabilitas Harga
Kapolri Tekankan Soliditas dalam Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di Monas
Pemerintah Klaim Kesiapan Infrastruktur Jalan Mudik Lebaran 2026 Sudah Dipastikan
Menko Pangan Pastikan Stok Aman dan Harga Terkendali Jelang Lebaran