Yang jadi persoalan, serangan-serangan balasan ini kerap meleset atau mengenai wilayah negara lain yang mengklaim netral. Beberapa negara tetangga mengeluh mereka ikut kena dampak, padahal tak terlibat konflik dan menolak wilayahnya dipakai untuk menyerang.
Di sisi lain, langkah Iran menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dilihat banyak pihak sebagai taktik tekanan ekonomi. Mereka seolah ingin menunjukkan, jika mereka tersudut, perekonomian global bisa ikut merasakan getahnya.
Namun begitu, dari Washington, nada yang terdengar justru optimis bahkan penuh keyakinan. Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama memberi isyarat bahwa perang ini akan segera berakhir.
Menurutnya, Iran sudah terpojok. “Mereka akan sulit bangkit kembali,” ujarnya, seperti dikutip kantor berita AFP, Kamis (12/3/2026). Trump yakin serangan AS telah membuat posisi Iran nyaris mustahil untuk pulih dalam waktu dekat.
Jadi, sementara PBB mencoba meredam dengan kata-kata dan tekanan diplomatik, di lapangan, perhitungannya masih tentang kekuatan dan ketahanan. Resolusi itu jelas sebuah peringatan keras. Tapi apakah cukup untuk menghentikan pertikaian? Itu pertanyaan yang jawabannya masih menggantung di udara panas Timur Tengah.
Artikel Terkait
Wali Kota Lepas 238 Pemudik Palembang dalam Program Mudik BUMN
Mendikbud Canangkan Kombinasi Digital dan Menulis Tangan untuk Cegah Ketergantungan Siswa pada AI
Tokopedia Fasilitasi Pembayaran Zakat Fitrah Secara Digital via BAZNAS
Buron Interpol Kasus Perdagangan Orang dari Kamboja Ditangkap di Bali