Menurut Ewrin, gelombang protes yang dipimpin perempuan sejak 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini telah melemahkan Republik Islam, bahkan sebelum Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei wafat dalam serangan.
Jalan Tanpa Pilihan
Penindasan berdarah pemerintah Iran terhadap gerakan "Perempuan, Hidup, Kebebasan" justru jadi pemantik bagi anggota baru PJAK. Seperti Bigen yang baru 18 tahun. Sebelum bergabung, dia ikut demo dan menolak pakai jilbab di sekolah.
Kelompok pemberontak Kurdi sering dituduh merekrut anak-anak. Bigen sendiri masih pelajar saat bergabung tiga tahun lalu. Bagi banyak petempur di sini, perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan yang mereka lihat.
PJAK punya keterkaitan dengan PKK di Turki, yang tahun lalu memutuskan gencatan senjata. PJAK menghormati keputusan itu, tapi menegaskan perlawanan bersenjata terhadap Iran akan terus berjalan. Baik Turki maupun Iran mencap mereka sebagai organisasi teroris.
Ketakutan akan Perang Saudara
Meski dilatih untuk bertempur, ada kekhawatiran mendalam di antara mereka. Tantangan menghadapi militer Iran yang lengkap senjatanya sangat besar.
Kelompok oposisi punya harapan Iran jadi model demokrasi baru. Tapi kekhawatiran akan konflik horizontal apabila kekuatan nasionalis mendominasi juga sangat nyata. Suku Kurdi, sekitar 10% dari 90 juta populasi Iran, merasa terpinggirkan puluhan tahun. Kini, di tengah pertikaian dengan AS-Israel, Teheran makin gencar menyerang basis mereka di Kurdistan Irak.
BBC mencoba mengonfirmasi soal percakapan dengan Trump kepada para pemimpin koalisi baru. Mereka menolak berkomentar dan membantah laporan bahwa pasukan Kurdi sudah menyeberang ke Iran. Meski begitu, PJAK mengklaim punya kekuatan "signifikan" di dalam wilayah Iran, yang hanya menunggu waktu tepat untuk bertindak.
Di Persimpangan Jalan
Kelompok oposisi Kurdi lain masih memantau. Mustafa Hijri dari Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI) menegaskan mandat mereka adalah mengelola Kurdistan Iran selama masa transisi, dan mengimbau pengikutnya menahan diri dari balas dendam.
Di sisi lain, ada keraguan di kalangan petempur. Seberapa bisa diandalkan dukungan AS? Seorang sumber yang paham dinamika internal mengatakan, kelompok oposisi tak akan menggerakkan pasukan darat tanpa jaminan dukungan udara dari AS. Serangan darat tanpa itu bisa berakhir "menghancurkan" bagi mereka.
Bagi para petempur perempuan di Pasukan Pertahanan Perempuan, "kebebasan" yang diperjuangkan sudah terlalu lama dinanti. Delal, misalnya, sudah meninggalkan lokasi pelatihan dan ditempatkan lebih dekat ke perbatasan.
Jika suku Kurdi benar-benar terjun dalam perang melawan Republik Islam, tidak ada yang bisa memastikan akhirnya. Berapa lama pertempuran akan berlangsung, dan seperti apa bentuk kemenangan atau kekalahan itu, semua masih menjadi tanda tanya besar.
Reportase tambahan oleh Valentina Sinis
Nama-nama prajurit perempuan yang digunakan adalah julukan militer, untuk alasan keamanan.
Artikel Terkait
Pemerintah Terbitkan Pedoman AI di Pendidikan, Utamakan Kesiapan Anak
Raden Rakha Ungkap Pengalaman Dua Tahun Mondok Sebelum Terjun ke Dunia Akting
Panglima TNI Aktifkan Kembali Jabatan Kaster, Letjen Bambang Trisnohadi Ditunjuk
Rumania Izinkan AS Gunakan Pangkalan Udara untuk Dukung Operasi di Konflik dengan Iran