Dampak perang di Timur Tengah ternyata tak cuma soal geopolitik. Perlahan tapi pasti, gelombang kejutnya mulai terasa di perekonomian negara-negara lain, bahkan yang jauh dari lokasi konflik. Beberapa negara, terutama di Asia, mulai 'mengetatkan ikat pinggang' untuk bertahan dari ancaman krisis yang mengintai.
Kebijakan-kebijakan baru pun digulirkan. Mulai dari hal yang terlihat sederhana seperti mengatur suhu AC, sampai langkah drastis menutup sekolah. Semua demi menghemat energi dan anggaran.
Pakistan Ambil Langkah Ekstrem: Sekolah Tutup Dua Minggu
Tekanan ekonomi memaksa Pakistan bergerak cepat. Awal pekan lalu, Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan yang cukup keras. Yang paling menyita perhatian: seluruh sekolah di negara itu akan diliburkan selama dua pekan mulai minggu depan. Bayangkan, sekitar 40 juta siswa terdampak. Untuk perguruan tinggi, perkuliahan dialihkan sepenuhnya ke daring.
Tak cuma itu. Kantor pemerintah kecuali bank hanya akan beroperasi empat hari seminggu. Separuh pegawai negeri diharuskan kerja dari rumah. Bahan bakar untuk kendaraan dinas dipotong separuh, kecuali untuk ambulans dan bus umum. Bahkan pembelian mobil dinas baru ditunda sampai pertengahan 2026.
Di level pejabat, para menteri dan penasihat setuju melepas gaji dan tunjangan mereka. Anggota legislatif pun diharapkan memotong gaji secara sukarela sebesar seperempatnya. Pemerintah juga melarang penyelenggaraan buka puasa bersama yang berlebihan selama Ramadan nanti.
Latar belakangnya jelas: harga bensin dan solar baru saja melonjak 55 rupee per liter, kenaikan terbesar yang pernah tercatat. Sebagai negara yang hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung impor, Pakistan sangat rentan. Setiap gejolak harga minyak global langsung terasa di dalam negeri.
"Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit,"
Artikel Terkait
DPR Ingatkan Sanksi Tegas hingga Pemberhentian bagi Kepala Daerah yang Langgar Larangan Mudik Mendagri
Prabowo: Krisis Global Momentum Percepat Swasembada Pangan dan Energi
OJK Sodorkan Roadmap Integralitas untuk Atasi Masalah Struktural di Pasar Modal
Pengadilan Tolak Praperadilan Yaqut, Status Tersangka KPK Sah