AI untuk Tanya Haji & Ibadah: Ulama Khawatir Soal Sanad, Ini Bahayanya

- Senin, 17 November 2025 | 07:25 WIB
AI untuk Tanya Haji & Ibadah: Ulama Khawatir Soal Sanad, Ini Bahayanya
Fenomena AI untuk Tanya Haji & Ibadah, Ulama Khawatir Soal Sanad & Otoritas

Fenomena Baru: Umat Islam Indonesia Gunakan AI untuk Tanya Haji dan Ibadah

Sebuah tren baru muncul di kalangan umat Islam Indonesia, yaitu menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai sumber informasi untuk masalah ibadah dan keagamaan, termasuk tata cara menunaikan ibadah haji.

Pengalaman Langsung Jemaah Haji Bertanya pada AI

Rizal Nova Mujahid dari Drone Emprit mengungkapkan pengalaman langsung Ismail Fahmi, CEO Drone Emprit, yang mengandalkan AI selama perjalanan hajinya. "Dari mulai di Jakarta, niat melakukan apa, sampai di Makkah, dia bertanyanya ke AI semua. Apa yang harus saya lakukan? Doanya apa? Di pesawat seperti apa? Semuanya pakai AI," ujar Nova dalam sebuah acara diskusi.

Dua Sisi Penggunaan AI dalam Bidang Agama

Di satu sisi, kehadiran AI diakui memberikan kemudahan karena mampu memberikan jawaban dengan cepat. "Kalau pertanyaannya bagus, prompt-nya tepat, kita bisa mendapatkan jawaban yang lebih berbobot," jelas Nova.

Namun, di sisi lain, fenomena ini memicu kekhawatiran serius dari para ulama dan pemuka agama. Praktik ini dianggap menimbulkan masalah baru dalam dunia dakwah, terutama menyangkut otoritas keilmuan dan pertanyaan seputar etika, yang kemudian memunculkan keraguan tentang otentisitas jawaban yang diberikan.

Kekhawatiran Mendasar: Ilmu Agama Harus Bersanad

Nova mengingatkan prinsip fundamental dalam Islam bahwa ilmu agama harus memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas. "Kalau tidak bersanad, wah celaka, ini bisa berbahaya. AI kadang-kadang putus pada sanad itu. Dia juga kadang-kadang tidak bisa membaca konteks," tegasnya.

Peringatan Bahaya Konten Tidak Moderat dalam AI

Bahaya lain yang mengintai adalah ketika AI 'dibanjiri' dengan muatan keilmuan yang cenderung keras dan tidak moderat. Hal ini berpotensi memengaruhi jawaban yang dihasilkan. "Itu jadi pertanyaan-pertanyaan sehingga AI harusnya dimanfaatkan dengan baik," ujarnya.

Kekhawatiran ini diperkuat dengan maraknya konten AI bertema keagamaan di platform media sosial. Mulai dari konten lucu seperti 'ustaz Korea' hingga muatan yang lebih keras. "Sampai kemudian ketika kita mendapati ada muatan-muatan yang sifatnya lebih keras, tidak moderat ini tentu saja akan menjadi hal yang berbahaya," pungkas Nova.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar