BRIN dan Kemenbud Sepakat Dorong Riset Peradaban 1,8 Juta Tahun dan Digitalisasi Bahasa

- Rabu, 11 Maret 2026 | 13:50 WIB
BRIN dan Kemenbud Sepakat Dorong Riset Peradaban 1,8 Juta Tahun dan Digitalisasi Bahasa

Kolaborasi baru saja terjalin antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Kebudayaan. Intinya, mereka sepakat untuk mendorong riset kebudayaan lebih serius. Ruang lingkupnya luas banget, mulai dari menelusuri jejak peradaban Nusantara yang konon sudah sangat tua, sampai ke urusan modern seperti mendigitalkan bahasa-bahasa daerah kita.

Menurut Kepala BRIN, Arif Satria, kerja sama ini punya misi besar. Salah satunya adalah mengkaji potensi peradaban Nusantara yang diduga sudah ada sejak 1,8 juta tahun silam. Bayangkan saja. Kalau klaim ini nantinya terbukti secara ilmiah, posisi Indonesia bakal makin strategis. Bukan cuma secara geografis, tapi juga dalam peta peradaban dunia.

“Dan ini adalah tugas BRIN yang memiliki Organisasi Riset Arbastra (Arkeologi, Bahasa dan Sastra). Tugas kita untuk bisa membuktikan tentang dugaan-dugaan tersebut. Jadi para peneliti arkeologi di BRIN sekarang sudah bekerja keras untuk menemukan karya-karya terbaik dari masyarakat kita sejak dulu,” jelas Arif dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/3/2026).

Pernyataan itu dia sampaikan setelah penandatanganan Nota Kesepahaman pada Selasa (10/3/2026).

Arif lantas membeberkan alasan lain. Posisi Indonesia, katanya, unik. Terletak di antara Pasifik dan Samudra Hindia, sekaligus jadi titik temu berbagai peradaban besar. Ditambah lagi dengan kekayaan yang luar biasa: sekitar 708 bahasa 10 persennya ada di Indonesia dan 1.340 kelompok etnis. Potensi usia peradaban yang mencapai 1,8 juta tahun itu bisa jadi modal kuat untuk menegaskan Indonesia sebagai simpul penting dalam dinamika global.

Namun begitu, tantangan ke depan tidak melulu soal masa lalu. Di era kecerdasan buatan atau AI ini, ada pekerjaan rumah yang mendesak: digitalisasi bahasa. Arif menyoroti sebuah fakta menarik. Tingkat akurasi AI sangat dipengaruhi bahasa yang dipakai.

Saat menggunakan bahasa Inggris, akurasinya bisa menyentuh 80 persen. Tapi coba pakai bahasa Indonesia, angkanya anjlok ke sekitar 60 persen. Lebih parah lagi dengan bahasa daerah, yang akurasinya cuma sekitar 42 persen.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar