Di dalam negeri Iran sendiri, penunjukan Mojtaba yang berusia 56 tahun itu langsung mendapat dukungan cepat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan kesetiaan penuh. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga memberi apresiasi. Dia melihat momen ini sebagai simbol persatuan nasional yang dibutuhkan bangsa.
Gelombang Kritik dari Seberang
Namun begitu, respons dari Washington justru berkebalikan sama sekali. Sikap AS terlihat jauh lebih skeptis, bahkan keras. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan ABC News sudah memberi sinyal kuat. Dia memperingatkan bahwa pemimpin baru Iran itu “tidak akan bertahan lama” tanpa ada kompromi dengan Amerika Serikat.
Trump bahkan menyatakan niatnya untuk terlibat secara personal dalam menentukan arah Iran ke depan. Laporan Fox News juga mengindikasikan keberatan Washington atas terpilihnya Mojtaba sebagai suksesor. Sebuah kontras yang sangat jelas dengan ucapan selamat hangat dari Moskow.
Dunia kini memandang ke Teheran. Tantangan bagi kepemimpinan baru ini amat berat: menghadapi ancaman eksternal yang nyata, sambil berusaha menjaga stabilitas dalam negeri. Dukungan dari mitra seperti Rusia mungkin menjadi penopang penting. Tapi jalan di depan masih panjang dan berliku.
Editor: Redaksi
Artikel Terkait
Presiden Korsel Akui Tak Bisa Cegah AS Pindahkan Rudal Patriot ke Timur Tengah
Korban Rekam Sendiri Pelecehan Seksual di KRL, KCI Lacak Pelaku Lewat CCTV
Polisi Tangkap Tersangka Pembunuh Mantan Aktivis Pelabuhan di Bekasi
Netflix Akuisisi Studio AI InterPositive Milik Ben Affleck