NTB Garap Proyek Peternakan Ayam Terintegrasi Senilai Rp1,2 Triliun untuk Kemandirian Pangan

- Selasa, 10 Maret 2026 | 09:45 WIB
NTB Garap Proyek Peternakan Ayam Terintegrasi Senilai Rp1,2 Triliun untuk Kemandirian Pangan

Di Jakarta, awal pekan ini, sebuah nota kesepahaman ditandatangani untuk sebuah proyek besar di Nusa Tenggara Barat. Nilainya tak main-main: Rp1,2 triliun. Proyek peternakan ayam terintegrasi di Kabupaten Sumbawa ini digarap bersama oleh Pemprov NTB, entitas bisnis SWF Danantara, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (ID Food). Harapannya jelas, selain memperkuat hilirisasi, ini jadi langkah serius untuk kemandirian pangan daerah.

Bagi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, ini lebih dari sekadar urusan investasi. Ada misi yang lebih besar di baliknya.

"Bagi NTB, ini bukan hanya proyek investasi biasa. Ini adalah langkah strategis untuk membangun ekosistem peternakan yang lebih adil dan memberdayakan peternak rakyat," ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Penandatanganan MoU dilakukan Iqbal dan Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, di Jakarta, Senin lalu. Acara itu juga dihadiri oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda.

Iqbal melihat ada persoalan mendasar yang selama ini membelit. Dua sektor kunci dalam industri perunggasan bibit ayam (DOC) dan pakan masih dikuasai pemain besar. Akibatnya, banyak peternak rakyat terjebak dalam pola kemitraan yang cuma membuat mereka bertahan, sulit sekali untuk benar-benar maju.

“Dengan hadirnya industri ayam terintegrasi di NTB, pemerintah berharap tercipta struktur usaha yang lebih sehat dan memberikan ruang lebih besar bagi peternak lokal berkembang secara mandiri,” kata Iqbal.

Masalahnya tak cuma di struktur usaha. Di sisi lain, NTB sendiri masih mengalami defisit pasokan untuk produk peternakan, terutama telur dan daging ayam. Kebutuhan itu masih mengandalkan pasokan dari daerah lain. Padahal, kebutuhan diprediksi bakal melonjak, seiring dengan berjalannya program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saat ini, jumlah penerima manfaat program tersebut di NTB telah mendekati seribu satuan layanan (SPPG). Artinya kebutuhan pasokan pangan, termasuk produk peternakan, akan terus meningkat,” terangnya.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar