Pasar saham Wall Street menutup sesi Kamis (8/1) dengan pergerakan yang beragam. Tekanan cukup kuat terlihat di kubu teknologi, sementara di sisi lain, saham-saham pertahanan justru melesat. Pemicunya? Pernyataan Presiden Donald Trump yang mengusulkan anggaran militer fantastis, mencapai USD 1,5 triliun.
Indeks-indeks utama bergerak tak seragam. Dow Jones berhasil menguat 0,55 persen, menutup di 49.266,11. Sementara S&P 500 hampir-hampir flat, hanya naik tipis 0,01 persen. Nasdaq malah terperosok 0,44 persen, terdorong oleh pelemahan di sektor teknologi yang cukup signifikan.
Di antara big tech, Nvidia dan Broadcom masing-masing anjlok 2,2 persen dan 3,2 persen. Microsoft pun ikut melemah. Pelemahan ini membuat indeks sektor teknologi S&P 500 jatuh 1,5 persen. Tampaknya, investor mulai berpikir ulang untuk terus mengejar saham-saham AI yang harganya sudah melambung tinggi. Ada semaca kehati-hatian yang mulai terasa.
“Selagi AI masih menjadi topik hangat, akan ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan,”
kata Art Hogan, Kepala strategi pasar di B. Riley Wealth.
Namun begitu, ada satu nama yang bersinar: Alphabet. Saham induk Google ini naik 1,1 persen, melanjutkan momentum setelah berhasil menggeser Apple sebagai perusahaan kedua paling bernilai di AS. Saham Apple sendiri justru tercatat turun 0,5 persen.
Artikel Terkait
Pizza Hut Indonesia Dirikan Anak Usaha Baru untuk Bisnis Roti dan Akomodasi
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional