Harga Minyak Tembus US$100, Trump Sebut Hanya Fenomena Jangka Pendek

- Senin, 09 Maret 2026 | 15:55 WIB
Harga Minyak Tembus US$100, Trump Sebut Hanya Fenomena Jangka Pendek

Memang, situasi di lapangan jauh dari kata mereda. Sudah lebih dari seminggu sejak serangan terkoordinasi dilancarkan, perang justru kian meluas. Iran membalas dengan menggempur negara-negara Teluk yang diketahui menampung aset militer AS. Kekacauan pun tak terhindarkan.

Dampaknya langsung terasa. Selat Hormuz jalur sempit yang jadi urat nadi bagi seperlima pasokan minyak global terpaksa ditutup. Belum lagi serangan-serangan yang menyasar infrastruktur energi kunci. Gabungan faktor inilah yang mendorong harga minyak mentah dan gas alam melesat naik.

Di sisi lain, sejumlah produsen minyak utama di kawasan Timur Tengah mulai kelimpungan. Kuwait dan Uni Emirat Arab, misalnya, terpaksa memangkas produksi. Penyebabnya sederhana: tempat penyimpanan mereka hampir penuh karena minyak tak bisa dikirim via Selat Hormuz. Irak pun tak ketinggalan, mereka sudah mulai menghentikan produksi sejak pekan lalu.

Jadi, meski Trump menyebutnya 'harga kecil', gelombang efeknya justru terasa besar dan nyata bagi pasar global. Perang ini jelas belum berakhir, dan ketidakpastiannya masih menggantung di udara.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar