Memang, situasi di lapangan jauh dari kata mereda. Sudah lebih dari seminggu sejak serangan terkoordinasi dilancarkan, perang justru kian meluas. Iran membalas dengan menggempur negara-negara Teluk yang diketahui menampung aset militer AS. Kekacauan pun tak terhindarkan.
Dampaknya langsung terasa. Selat Hormuz jalur sempit yang jadi urat nadi bagi seperlima pasokan minyak global terpaksa ditutup. Belum lagi serangan-serangan yang menyasar infrastruktur energi kunci. Gabungan faktor inilah yang mendorong harga minyak mentah dan gas alam melesat naik.
Di sisi lain, sejumlah produsen minyak utama di kawasan Timur Tengah mulai kelimpungan. Kuwait dan Uni Emirat Arab, misalnya, terpaksa memangkas produksi. Penyebabnya sederhana: tempat penyimpanan mereka hampir penuh karena minyak tak bisa dikirim via Selat Hormuz. Irak pun tak ketinggalan, mereka sudah mulai menghentikan produksi sejak pekan lalu.
Jadi, meski Trump menyebutnya 'harga kecil', gelombang efeknya justru terasa besar dan nyata bagi pasar global. Perang ini jelas belum berakhir, dan ketidakpastiannya masih menggantung di udara.
Artikel Terkait
Dua Warga Selamat, Satu Korban Tewas Ditemukan dalam Pencarian di TPST Bantargebang
Pemuda Terluka Parah Usai Motor Terperosok Lubang Tersamar Genangan di MT Haryono
Presiden Prabowo Resmikan 218 Jembatan Baru Hasil Rehabilitasi Pasca Bencana
Presiden Prabowo Janjikan Beasiswa ke Siswi Nias Usai Viral Video Bahaya ke Sekolah