Dia juga tak lupa mengingatkan soal akar masalah. Instruksi dikeluarkan untuk memperketat pemilahan sampah dari sumbernya, alias di hulu. Tujuannya jelas: mengurangi volume yang akhirnya berlabuh di tempat pembuangan akhir.
Di sisi lain, upaya lain juga digenjot. Fasilitas pengolah sampah di Rorotan dipacu operasionalnya. Targetnya, fasilitas itu bisa menyerap 1.500 ton sampah per hari. Angka yang cukup signifikan untuk meringankan beban Bantar Gebang yang memang sudah menyesak.
"Bantar Gebang memang harus mulai ada pembatasan karena daya tampungnya sudah sangat terbatas," aku Pramono dengan nada prihatin.
Pernyataan itu sekaligus jadi pengakuan bahwa masalah sampah Jakarta sudah berada di titik yang kritis. Gubernur pun akhirnya meminta pengertian masyarakat. Kondisi darurat ini butuh kesabaran sembari proses pemulihan Zona 4A berlangsung. Sebuah ujian besar bagi kota metropolitan yang produksi sampahnya tak pernah berhenti.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Peringatkan Dampak Konflik Timur Tengah ke Stabilitas Ekonomi Jakarta
Prabowo Gelar Rapat Terbatas Bahas Swasembada dan Persiapan Lebaran di Hambalang
Tiga Tewas dalam Kecelakaan Pikap Penuh Penumpang di Kebumen
Nadiem Bantah Tuduhan Pemerkayaan Rp6 Triliun dari SPT Pajak di Sidang Chromebook