"Ini menjadi model bagi kita semua agar keterjangkauan harga ini bisa dijangkau oleh masyarakat kita," ujar Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, yang memantau pelaksanaan GPM secara virtual di 35 wilayah se-Jateng.
Luthfi mengapresiasi program ini. Baginya, GPM bukan sekadar bazar biasa, tapi sebuah strategi untuk menekan inflasi dan langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Hingga awal Maret 2026, catatannya cukup signifikan. GPM sudah dilaksanakan ribuan kali di seluruh Indonesia: 20 kali oleh pusat, 263 kali di 33 provinsi, dan ribuan kali lagi di tingkat kabupaten/kota serta inisiatif swadaya masyarakat. Angka itu menunjukkan skala dan intensitas program.
Lalu, bagaimana harga di lapangan? Di GPM Kebumen, masyarakat bisa mendapatkan beras dengan harga Rp60.000 untuk 5 kilogram. Minyak goreng dijual Rp15.500 per liter, sementara telur ayam mulai Rp24.000 per kilo. Ada juga daging ayam seharga Rp17.500 untuk setengah kilogram, gula pasir dari Rp16.000/kg, dan cabai mulai Rp5.000 per paket. Harganya jelas di bawah pasaran.
Tak cuma itu, sebagai bentuk insentif tambahan, lebih dari 3.000 kupon potongan harga senilai Rp5.000 hingga Rp10.000 juga dibagikan. Jadi, manfaatnya berlapis. Program seperti ini, meski terlihat sederhana, pada praktiknya punya dampak langsung. Ia memberi napas lega bagi banyak keluarga, sekaligus menjadi buffer untuk menjaga stabilitas ekonomi mikro di tengah euforia jelang lebaran.
Artikel Terkait
Sepeda Dicuri Saat Pemiliknya Salat Tarawih di Depok, Pelaku Terekam CCTV
Hari Perempuan Internasional 2026 Soroti Kesenjangan Hukum dan Serukan Aksi Nyata
Banjir 1,5 Meter Rendam Permukiman di Cipinang Melayu
BNN Ungkap Laboratorium Narkoba Rusia di Vila Mewah Bali