Jakarta. Angka yang dikeluarkan Bank Indonesia pekan lalu cukup mengejutkan. Posisi cadangan devisa kita, ternyata, masih bertengger di level yang sangat tinggi. Tepatnya, 151,9 miliar dolar AS pada akhir Februari lalu. Angka segitu jelas bukan main-main.
Namun begitu, kalau dibandingin sama bulan sebelumnya, memang ada sedikit penurunan. Di akhir Januari, cadangan kita sempat mencapai 154,6 miliar dolar AS. Jadi, selisihnya sekitar 2,7 miliar dolar. Lantas, apa penyebabnya?
Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, ada beberapa faktor yang berperan. Penerimaan dari pajak dan jasa, misalnya. Lalu, ada juga realisasi penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah. Di sisi lain, penurunan itu juga dipakai buat bayar utang luar negeri pemerintah. Belum lagi, BI sendiri melakukan intervensi di pasar buat stabilkan nilai tukar rupiah, yang lagi bergejolak karena kondisi pasar global yang nggak pasti.
Ramdan memberikan penjelasan lebih rinci pada Jumat, 6 Maret 2026.
"Posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujarnya.
Artikel Terkait
DPR Optimistis Ibadah Haji 2026 Tak Terganggu Meski Konflik Timur Tengah Membara
DPR Dukung PP Tunas: Batasan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
AS Kerahkan Pengebom B-1 Lancer ke Inggris, Siaga Ancaman Rudal Iran
Herdman Hadapi Kekosongan Skuad, Buka Peluang Pemain Muda di FIFA Series