Serangan balik dari negara adidaya macam itu jelas bukan main-main. Efeknya tak cuma dirasakan di meja perundingan, tapi akan merembet ke dalam negeri. Stabilitas domestik yang sudah terbebani utang bisa tambah goyah.
Lalu, apa solusinya? Konfrontasi langsung jelas bukan jawaban. Siti menyarankan pendekatan yang lebih halus, lebih cerdik. Diplomasi yang tak perlu gebyar-gebyar.
"Jadi itu yang harus kita pikirkan, bagaimana Amerika tidak marah tapi kita bisa keluar," terangnya. "Karena dia melanggar ya kita ikut-ikut melanggar atau bagaimana, tapi kita keluar tapi nggak usah bilang keluar gitu, tinggal diundang nggak usah datang juga bisa."
Intinya, butuh trik. Kegagalan mengelola transisi ini risikonya besar: isolasi internasional dan krisis ekonomi akibat embargo. Tantangan terbesarnya adalah melepaskan diri dari jeratan tanpa harus hancur oleh tekanan kekuatan global.
"Artinya punya trik-trik yang ini kita berhadapan dengan orang yang tidak taat hukum lho," tandas Siti. "Jadi harus punya ide."
Jadi, keluar dari BoP bukan soal berani atau tidak. Tapi lebih pada soal seberapa lihai kita berdiplomasi di tengah keterbatasan yang ada. Permainannya harus sangat hati-hati.
Artikel Terkait
Kuwait Catat 67 Personel Militer Terluka Akibat Serangan Balasan Iran
Kapolri Hadiri Buka Puasa Bersama Buruh di Cikarang, Salurkan 2.000 Paket Sembako
AS Pertimbangkan Relokasi Rudal Patriot dari Korea Selatan ke Timur Tengah
Kapal Tenggelam di Muara Pomako, Semua Penumpang Selamat Berkat Evakuasi Warga