Keluar dari Board of Peace? Secara teori, itu mungkin saja. Tapi coba tengok realitas yang ada. Menurut Guru Besar UGM Siti Mutiah Setiawati, langkah itu jauh dari sederhana buat Indonesia. Posisi kita di peta global saat ini, ya, agak terjepit.
Masalahnya klasik: ekonomi. Utang luar negeri yang menumpuk dan ketergantungan pada pihak eksternal seolah mengunci gerak langkah politik luar negeri kita. "Apa mungkin kita keluar dari BoP? harus," ujar Siti dalam acara Pojok Bulaksumur UGM, Jumat lalu.
Tapi dia langsung menambahkan, nada suaranya serius, "Sebagai negara sedang berkembang itu, biasanya mengalami dilema. Dalam memutuskan itu dilema karena kita itu apa-apanya terbatas."
Nah, di sinilah persoalannya menjadi pelik. Ambil langkah berani, konsekuensinya bisa berat. Dampak terburuk yang mengintai? Agresi sepihak, atau yang lebih realistis: embargo ekonomi yang bisa menghancurkan. Belum lagi kalau kita lihat karakter pemimpin di seberang sana.
Donald Trump. Namanya saja sudah bikin banyak diplomat menghela napas. Gayanya yang tak terprediksi dan kecenderungannya mengabaikan hukum internasional jadi ancaman nyata. Kalau Indonesia dianggap membangkang, apa yang akan dia lakukan?
"Ya Donald Trump itu kayak gitu kok, nggak bisa diprediksi," kata Siti dengan nada gamblang.
"Bisa jadi dia menyerang kita, bisa. Mengembargo ya bisa, wong namanya orang ngawur. Hukum internasional aja dilanggar, ngapain perjanjian dengan Indonesia, gampang melanggar. Jadi risikonya kita bisa terkena dampak ngawurnya ini."
Artikel Terkait
Kuwait Catat 67 Personel Militer Terluka Akibat Serangan Balasan Iran
Kapolri Hadiri Buka Puasa Bersama Buruh di Cikarang, Salurkan 2.000 Paket Sembako
AS Pertimbangkan Relokasi Rudal Patriot dari Korea Selatan ke Timur Tengah
Kapal Tenggelam di Muara Pomako, Semua Penumpang Selamat Berkat Evakuasi Warga