Kuwait baru saja mengumumkan angka yang cukup mencengangkan. Sebanyak 67 personel militernya mengalami luka-luka, semua terjadi sejak serangan balasan Iran dimulai. Kolonel Saud Al-Atwan, juru bicara Kementerian Pertahanan, yang mengonfirmasi hal ini pada Jumat lalu.
“Enam puluh tujuh personel militer Kuwait telah terluka sejak awal serangan,”
Begitu penjelasan Al-Atwan, seperti dilaporkan kantor berita AFP. Soal di mana tepatnya insiden itu terjadi, ia tak memberikan rincian lebih lanjut.
Namun begitu, yang jelas, negara kecil di Teluk itu ternyata paling banyak menanggung beban. Jumlah korban luka mereka disebut yang tertinggi di kawasan sejak konflik memanas. Belum lagi korban jiwa. Dari total 13 kematian yang tercatat di wilayah Teluk, delapan di antaranya justru terjadi di Kuwait.
Angka itu mencakup empat prajurit AS, dua tentara Kuwait, dan dua warga sipil biasa. Washington sendiri mengakui telah kehilangan enam anggota militernya dalam perang ini.
Di sisi lain, upaya pertahanan Kuwait terbilang sibuk. Menurut juru bicara tadi, sejak Sabtu lalu mereka sudah berhasil mendeteksi dan menangani 212 rudal balistik serta 394 drone. Sebuah pekerjaan yang sangat berat untuk negara dengan luas geografis tak terlalu besar.
Kehadiran militer AS di Kuwait sendiri bukan hal baru. Hubungan itu sudah terjalin puluhan tahun, tepatnya sejak Washington membantu membebaskan Kuwait dari invasi Irak di tahun 1990. Sejak saat itu, keberadaan pasukan Amerika di sana menjadi hal yang signifikan dan terus berlanjut hingga kini.
Artikel Terkait
Tim Gabungan Amankan Bukti Krusial di Lokasi Jatuhnya Helikopter PK-CFX di Sekadau
Pencarian Anak 6 Tahun yang Hanyut di Sungai Ciliwung Bogor Dilanjutkan
Pertamina Tegaskan Pertalite Hanya untuk yang Berhak, Imbau Pengawasan Ketat
BPJS Kesehatan Luncurkan BPJS Menyapa untuk Tanggapi Aspirasi Peserta JKN