Sejauh ini, pergerakan IHSG di tahun 2026 bisa dibilang seperti diterpa badai. Kombinasi berbagai faktor negatif membuat indeks utama dan kawan-kawannya IDX80 dan LQ45 terkapar dengan koreksi sekitar 11-12 persen. Tekanannya datang dari mana-mana. Mulai dari ancaman penurunan status pasar oleh MSCI di bulan Februari lalu, sampai kekhawatiran terhadap kesehatan anggaran pemerintah yang sempat membuat lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody's menurunkan outlook. Belum lagi tensi geopolitik di Timur Tengah yang bikin was-was soal beban subsidi energi. Akibatnya, performa pasar kita pun tertinggal dibandingkan negara-negara sekawasan.
Namun begitu, ada secercah harapan. Analis dari Indo Premier, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, dalam riset terbarunya, melihat sebagian besar kekhawatiran itu berpotensi mereda. Mereka bahkan yakin pembalikan arah bisa terjadi dalam waktu dekat. Katalisnya apa? Pertumbuhan laba emiten dan potensi kejutan kinerja di kuartal pertama tahun ini.
Mari kita lihat dulu soal status pasar. Risiko turun ke kategori frontier market dinilai sangat kecil. “Berdasarkan diskusi dengan investor asing, risiko penurunan status ke pasar frontier dinilai sangat kecil,” tulis kedua analis itu.
Argumennya, peringatan dari MSCI justru mendorong Bursa Efek Indonesia untuk berbenah. Transparansi dan kualitas informasi ditingkatkan, misalnya dengan menambah kategori pemegang saham dan mengungkap kepemilikan di atas 1 persen. Langkah-langkah ini dianggap cukup signifikan.
Di sisi lain, soal kekhawatiran fiskal, pemerintah sudah berkomitmen keras. Mereka berjanji menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen dari PDB, sekalipun harga minyak melonjak sampai USD100 per barel. Caranya? Dengan mengoptimalkan program Makan Bergizi Gratis, mengencangkan ikat pinggang anggaran kementerian, dan menata ulang restitusi pajak. Komitmen ini penting banget untuk mempertahankan peringkat investment grade. Pengalaman di negara lain menunjukkan, sekali peringkat turun, imbal hasil obligasi bisa melonjak tajam dan bikin pusing. Di pasar kita sendiri, yield sempat naik ke 6,9 persen sebelum akhirnya turun lagi. Rupiah pun ikut melemah sekitar 3 persen, mencerminkan kekhawatiran yang sempat membayangi.
Nah, di tengah semua tekanan itu, justru prospek laba emiten terlihat cerah. Menurut Indo Premier, pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan di radar mereka dan indeks LQ45 bisa mencapai 10-16 persen di tahun 2026. Angka ini merupakan pembalikan yang tajam dari kontraksi 2 persen di tahun sebelumnya. Bahkan, proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan dengan konsensus untuk pasar seperti China, India, Malaysia, dan Thailand. Yang menarik, kinerja kuartal I-2026 berpotensi memberikan kejutan positif, terutama dari sektor-sektor seperti perbankan, komoditas logam dan batu bara serta konsumer.
Lalu, saham apa saja yang diunggulkan? Indo Premier punya daftarnya. Di sektor perbankan, mereka menjagokan BMRI, BBNI, BRIS, dan BBTN. Untuk logam, pilihan jatuh pada ANTM, MBMA, dan TINS. Sementara di batu bara, AADI jadi andalan. Tidak ketinggalan, sektor konsumer seperti MAPI dan GOTO juga masuk dalam radar.
Jadi, meski sempat terombang-ambing, masa depan IHSG mungkin tak segelap yang dibayangkan. Semuanya kembali pada dua hal: realisasi komitmen fiskal dan bukti pertumbuhan laba di lapangan. Kita tunggu saja perkembangannya.
Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak 8% Usai AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz
Analis Prediksi IHSG Terkoreksi, Rekomendasikan Buy on Weakness
Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual
IMF Peringatkan Utang AS Capai 125% PDB, Butuh Penyesuaian Fiskal Terbesar