BI Buka Opsi Penurunan Suku Bunga, Perry Warjiyo: Memang Ada Ruang

- Rabu, 19 November 2025 | 19:50 WIB
BI Buka Opsi Penurunan Suku Bunga, Perry Warjiyo: Memang Ada Ruang
BI Isyaratkan Ruang Penurunan Suku Bunga Acuan

BI Isyaratkan Ruang Penurunan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia (BI) mengindikasikan adanya potensi penurunan suku bunga acuan (BI Rate) dalam periode mendatang. Isyarat ini disampaikan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada Rabu, 19 November 2025.

"Memang ada ruang penurunan suku bunga acuan BI Rate lebih lanjut dengan dua pertimbangan utama, yaitu inflasi dan pertumbuhan ekonomi," tegas Perry Warjiyo dalam konferensi pers tersebut.

Meski membuka ruang untuk pelonggaran moneter, BI terlebih dahulu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada RDG kali ini. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

FOKUS KEBIJAKAN JANGKA PENDEK BI:

  • Mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah
  • Menguatkan ketahanan ekonomi terhadap ketidakpastian global
  • Memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter

Perry menegaskan bahwa waktu dan besaran penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan dinamika ekonomi global dan domestik ke depan. Menurutnya, kondisi stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prasyarat penting sebelum BI dapat melanjutkan pelonggaran moneter.

Tiga Faktor Ketidakpastian Global

Gubernur BI mengidentifikasi tiga faktor utama yang meningkatkan ketidakpastian global dalam dua bulan terakhir:

  1. Government shutdown Amerika Serikat yang disebut sebagai yang terlama dalam sejarah
  2. Inflasi AS yang tetap tinggi menyebabkan Federal Reserve bersikap less dovish dalam penurunan Fed Fund Rate
  3. Meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia

Dalam menghadapi tantangan ini, BI berkomitmen untuk terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini, sembari tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai prioritas utama.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar