Di balik harapan, tantangannya tidak kecil. Syafruddin menyoroti keragaman sektor yang dinaungi BUMN. Dari energi, perbankan, infrastruktur, sampai transportasi – semuanya punya karakter dan risiko sendiri-sendiri.
Belum lagi soal menyelaraskan standar manajemen risiko dan laporan keuangan. Tanpa desain kelembagaan yang kuat, upaya konsolidasi malah berpotensi memicu konflik atau strategi yang tidak selaras antarperusahaan.
Lalu, apa solusinya? Syafruddin menyarankan Danantara untuk membangun sistem portofolio yang jelas. Fungsi investasi harus dipisah dari operasional, sementara indikator kinerja harus transparan dan terukur. Pada akhirnya, kata dia, keberhasilan langkah ambisius ini bergantung pada kapasitas institusi dan konsistensi dalam menjalankan tata kelola yang baik. Tidak mudah, tapi harus dicoba.
Artikel Terkait
Pemerintah Tetapkan Jadwal Libur Sekolah Lebaran 2026 dalam Dua Periode
Polri Serahkan Rp 58,1 Miliar Hasil Sitaan Judi Online ke Negara
Akulaku Finance Catat Laba Bersih Melonjak 66% Didorong Layanan Paylater
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa dan Hormati Ulama di Istana