Bulan Ramadan memang penuh berkah, tapi bagi keluarga seperti Siti Sumiati, bulan puasa juga bawa kecemasan tersendiri. Kebutuhan dapur yang melonjak bisa bikin pusing. Nah, untungnya ada Program Keluarga Harapan (PKH) yang bantu meringankan beban. Bantuan itu bikin Siti dan keluarganya di Bogor bisa menjalani Ramadan dengan sedikit lebih tenang.
Perempuan 38 tahun ini sudah menerima PKH sejak 2018. Kehidupan sehari-harinya di Kampung Cikupa, Kabupaten Bogor, jauh dari kata mudah. Siti hidup bersama suaminya yang kerja serabutan dan lima anak yang masih pada sekolah. Penghasilan? Sangat tidak pasti.
"Kalau lagi dapat proyek, suami saya biasanya nguli bangunan atau bantu-bantu di sawah," cerita Siti. Hasilnya sekitar delapan puluh sampai seratus dua puluh ribu rupiah per hari. Itu pun kalau ada orderan. Di saat-saat sepi kerjaan, bantuan PKH-lah yang jadi andalan.
"Alhamdulillah sejak dapat PKH saya terbantu sekali. Kalau suami lagi tidak ada kerjaan, bantuan itu bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anak-anak," ujarnya, Kamis lalu.
Dana yang cair setiap tiga bulan itu ia kelola dengan sangat hati-hati. Prioritas utama jelas: isi perut dan biaya sekolah. Biasanya, begitu uang turun, Siti langsung bayar utang-utang kecil di warung. Baru setelah itu, sisa dananya dipakai buat beli beras dan lauk-pauk.
"Jadi sangat membantu," ungkapnya singkat.
Memasuki Ramadan seperti sekarang, bantuan yang disalurkan tepat sebelum puasa terasa sangat berarti. Setidaknya ada pegangan untuk memenuhi kebutuhan sahur dan buka puasa. "Jadi ada yang ditunggu untuk kebutuhan keluarga," tutur Siti.
Tak cuma untuk makan. Sebagian uang bantuan juga Siti alokasikan untuk pendidikan anak-anaknya. Salah satunya untuk anak yang kini duduk di bangku SMA. Dana itu buat bayar uang sekolah, beli sepatu, alat tulis, dan keperluan belajar lainnya.
Menurut Siti, tanpa PKH, mustahil baginya menyekolahkan anak sampai tingkat SMA. Harapannya sederhana: anak-anaknya bisa dapat kehidupan yang lebih baik.
"Kalau tidak ada PKH mungkin anak saya hanya sampai SMP. Tapi karena ada bantuan ini, saya usahakan mereka tetap sekolah," katanya.
"Pengennya anak-anak punya pekerjaan nanti. Minimal lulus sekolah bisa kerja, supaya hidupnya lebih baik," sambungnya penuh harap.
Bagi Siti, PKH bukan sekadar angka di rekening. Itu adalah penopang nyata yang membantunya bertahan. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan para pendamping yang memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat.
"Saya berterima kasih kepada pemerintah, kepada bapak presiden dan juga para pendamping. Bantuan ini sangat membantu kami untuk meringankan beban keluarga," tutupnya.
Di tengah hidup yang serba pas-pasan, Ramadan bagi Siti punya makna lebih dalam. Ini adalah momen bersyukur, karena di balik segala keterbatasan, masih ada bantuan yang menjaga harapan untuk masa depan keluarganya.
Secara nasional, program PKH terus berjalan. Untuk tahap pertama di tahun 2026 saja, bantuan sudah disalurkan ke lebih dari 9,3 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia. Total nilainya mencapai hampir tujuh triliun rupiah, berdasarkan data terbaru pemerintah.
Artikel Terkait
Kebijakan Absent Friendly Wondr Kemala Run 2026: Hadiah Tetap Diberikan Meski Pemenang Tak Hadir
Petani Sawit Aceh Hadapi Kendala Akses Pascabanjir
Aliansi Advokat Maluku Laporkan Ade Armando dan Abu Janda ke Polda Metro Jaya
Menteri Sosial Apresiasi Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat di Sulteng