Di Bandara Kualanamu, Selasa (3/3) lalu, suasana apel pelepasan terasa khidmat. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto melepas para praja IPDN Gelombang II yang akan pulang dari penugasan. Tapi pesannya jelas: kerja mereka di Aceh Tamiang bukan cuma soal bantuan kemanusiaan biasa.
Menurut Bima, ini lebih dari itu. Ini adalah misi kebangsaan.
"Karena itu kami yakin, Pak Direktur, ini bukan saja misi kemanusiaan tetapi ini (juga) adalah misi kebangsaan,"
tegasnya dalam keterangan tertulis di hari yang sama.
Kehadiran para praja di wilayah yang baru saja dilanda bencana, di mata Wamen, punya nilai strategis. Di satu sisi, mereka membantu pemulihan. Di sisi lain, kehadiran mereka justru memperkuat rasa persatuan dan sekaligus menjadi ujian nyata bagi pelayanan publik. Adaptasi dengan budaya lokal bukan pilihan, melainkan keharusan.
Bima menggambarkan penugasan itu bagai 'kawah candradimuka'. Sebuah tempat penempaan yang keras dan langsung. Di lapangan, segala teori di kampus diuji dengan realita yang seringkali tak terduga.
"Fisik diuji, nyali diuji, kesabaran diuji, kemampuan komunikasi juga diuji, kemampuan toleransi juga diuji,"
Artikel Terkait
BMKG Waspadai Tiga Bibit Siklon Tropis, Potensi Cuaca Ekstrem Melanda Sejumlah Daerah
Megawati Absen dari Silaturahmi Presiden Prabowo, PDIP Sebut Ada Agenda di Bali
Polisi Bongkar Jaringan Perburuan Liar Gajah Sumatera di Pelalawan, 15 Tersangka Diamankan
HNW Ajak Jaga Silaturahmi dan Soroti Stunting dalam Buka Puasa Bersama Tokoh Perempuan