Dari sisi regional, dampaknya tidak merata. Kawasan Timur Tengah dan Afrika diperkirakan akan mengalami pukulan terberat, dengan penurunan pengiriman lebih dari 20 persen. China diproyeksikan turun 10,5 persen, sementara Asia Pasifik (kecuali Jepang) sekitar 13,1 persen. Kapan situasi membaik? IDC memperkirakan harga RAM baru baru akan stabil sekitar pertengahan 2027.
Namun begitu, bukan berarti semua segmen terpuruk sama dalam. Analis Counterpoint menilai, segmen ponsel premium relatif lebih tahan banting menghadapi tekanan ini. Masalahnya ada di ponsel kelas bawah. Segmen di bawah 200 dolar AS diprediksi bisa merosot hingga 20 persen.
Yang Wang, Principal Analyst di Counterpoint, punya pandangan. Ia menyebut dampak kelangkaan memori ini akan berlanjut hingga paruh kedua 2027. Soalnya, butuh waktu berkuartal-kuartal untuk menambah pasokan.
Ada efek samping yang menarik dari kekacauan ini. Counterpoint menambahkan, ketidakstabilan harga perangkat baru justru berpotensi mendongkrak pasar ponsel bekas. Logis saja, ketika barang baru mahal, orang akan mencari alternatif.
Peringatan soal kenaikan harga ini sebenarnya sudah disuarakan lebih dulu oleh beberapa pelaku industri. Carl Pei, CEO dan pendiri Nothing, misalnya. Ia sudah mengingatkan bahwa harga ponsel pintar akan naik pada 2026 karena biaya memori yang melambung.
Model bisnis yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga murah, menurutnya, akan sulit bertahan dalam situasi seperti ini. Masa depan pasar ponsel, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan, tampaknya akan didominasi oleh gejolak dan penyesuaian yang tidak mudah.
Artikel Terkait
Kemenhaj Imbau 58 Ribu Jemaah Umrah Tetap Tenang di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Shell dan Pertamina Naikkan Harga BBM, Stok Shell di Jakarta Habis
Konflik AS-Israel-Iran Ganggu Penerbangan Timur Tengah di Soekarno-Hatta
Toyota Veloz Hybrid Resmi Dijual di Indonesia, Harga Mulai Rp 299 Juta