Lebih jauh, Nasaruddin menegaskan satu hal penting. Imlek bukan lagi sekadar ritual keagamaan umat Khonghucu atau tradisi komunitas Tionghoa semata. Ia telah bertransformasi. Kini, ia adalah aset kekayaan budaya nasional yang berharga, sekaligus sarana diplomasi budaya di mata dunia.
"Festival ini menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, lintas agama, dan lintas generasi. Di sinilah kita melihat bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang mempersatukan,"
imbuhnya.
Harapannya jelas. Melalui perayaan seperti ini, persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman bisa kian erat. Juga untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
"Menumbuhkan semangat toleransi, saling menghargai, dan gotong royong. Serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami dan mencintai budaya Nusantara,"
sambung dia.
Pada akhirnya, Nasaruddin berharap Tahun Baru Imlek membawa kedamaian, menjauhkan bangsa dari konflik. Ia ingin momen ini jadi peluang untuk memperkuat keadilan sosial dan mengentaskan kemiskinan.
"Semoga puasa kita diterima dan Imlek kita pun penuh dengan berkah. Kita diajak untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merefleksikan diri, sudah sejauh mana kita menebarkan kebaikan dan menjaga keharmonisan di dalam kehidupan bersama,"
pungkasnya, menutup sambutan yang hangat itu.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Sampaikan Harapan Damai dan Optimisme di Perayaan Imlek Nasional
Taliban Tawarkan Dialog ke Pakistan di Tengah Korban Berjatuhan di Perbatasan
Jadwal Imsak dan Salat untuk Jakarta dan Kepulauan Seribu Hari Ini, 1 Maret 2026
Netanyahu Klaim Serangan Hancurkan Kompleks Khamenei, Iran Bungkam