Menteri Agama: Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Capai Puncak Sejarah

- Minggu, 01 Maret 2026 | 00:40 WIB
Menteri Agama: Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Capai Puncak Sejarah

Lebih jauh, Nasaruddin menegaskan satu hal penting. Imlek bukan lagi sekadar ritual keagamaan umat Khonghucu atau tradisi komunitas Tionghoa semata. Ia telah bertransformasi. Kini, ia adalah aset kekayaan budaya nasional yang berharga, sekaligus sarana diplomasi budaya di mata dunia.

"Festival ini menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, lintas agama, dan lintas generasi. Di sinilah kita melihat bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang mempersatukan,"

imbuhnya.

Harapannya jelas. Melalui perayaan seperti ini, persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman bisa kian erat. Juga untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.

"Menumbuhkan semangat toleransi, saling menghargai, dan gotong royong. Serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami dan mencintai budaya Nusantara,"

sambung dia.

Pada akhirnya, Nasaruddin berharap Tahun Baru Imlek membawa kedamaian, menjauhkan bangsa dari konflik. Ia ingin momen ini jadi peluang untuk memperkuat keadilan sosial dan mengentaskan kemiskinan.

"Semoga puasa kita diterima dan Imlek kita pun penuh dengan berkah. Kita diajak untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merefleksikan diri, sudah sejauh mana kita menebarkan kebaikan dan menjaga keharmonisan di dalam kehidupan bersama,"

pungkasnya, menutup sambutan yang hangat itu.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar