Menteri Agama: Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Capai Puncak Sejarah

- Minggu, 01 Maret 2026 | 00:40 WIB
Menteri Agama: Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Capai Puncak Sejarah

Malam itu, Lapangan Banteng bersinar terang. Di tengah kerumunan dan gemerlap lentera merah, Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir menyapa dalam puncak Imlek Festival 2026. Ia tak segan mengapresiasi kesuksesan seluruh rangkaian acara yang digelar.

"Inilah Imlek pertama sepanjang sejarah Indonesia, terjadi semacam koalisi yang sangat luar biasa,"

katanya, suaranya terdengar jelas di udara Sabtu malam tanggal 28 Februari 2026 itu.

Acara bertajuk 'Harmoni Imlek Nusantara' ini, menurutnya, adalah bukti nyata persatuan di era Kabinet Merah Putih. Nasaruddin tampak antusias menceritakan bagaimana perayaan hari besar keagamaan, dari Natal hingga Imlek, kini diselenggarakan bersama dengan penuh kemeriahan. "Kemarin kita merayakan Natal bersama ya, dan hari ini juga kita merayakan Imlek juga bersama," ujarnya sambil tersenyum.

Di sisi lain, ia juga menyitir data yang cukup menggembirakan. Indeks kerukunan umat beragama Indonesia, katanya, mencatat rekor positif. Ini bukan angka sembarangan. Baginya, kenyataan itu menunjukkan betapa kokohnya kebersamaan kita sebagai bangsa yang majemuk.

"Tahun ini, tahun 2025, tercatat juga dalam indeks bahwa tingkat kerukunan Indonesia sepanjang sejarah bangsa Indonesia, Indonesia mencapai puncaknya pada tahun ini,"

lanjutnya, menekankan poin tersebut.

Ada hal lain yang membuat perayaan tahun ini terasa spesial. Imlek berlangsung beriringan dengan bulan suci Ramadan. Momen langka ini disebutnya sebagai simbol wajah asli Indonesia; berbeda, tapi tetap rukun berdampingan.

"Lentera-lentera merah Imlek yang bercahaya dan berbagai pertunjukan akulturasi hari ini, menjadi simbol indah bagaimana dua tradisi besar ini, Imlek dan Ramadan, dapat saling melengkapi,"

tuturnya penuh renungan.

Lebih jauh, Nasaruddin menegaskan satu hal penting. Imlek bukan lagi sekadar ritual keagamaan umat Khonghucu atau tradisi komunitas Tionghoa semata. Ia telah bertransformasi. Kini, ia adalah aset kekayaan budaya nasional yang berharga, sekaligus sarana diplomasi budaya di mata dunia.

"Festival ini menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, lintas agama, dan lintas generasi. Di sinilah kita melihat bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang mempersatukan,"

imbuhnya.

Harapannya jelas. Melalui perayaan seperti ini, persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman bisa kian erat. Juga untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.

"Menumbuhkan semangat toleransi, saling menghargai, dan gotong royong. Serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami dan mencintai budaya Nusantara,"

sambung dia.

Pada akhirnya, Nasaruddin berharap Tahun Baru Imlek membawa kedamaian, menjauhkan bangsa dari konflik. Ia ingin momen ini jadi peluang untuk memperkuat keadilan sosial dan mengentaskan kemiskinan.

"Semoga puasa kita diterima dan Imlek kita pun penuh dengan berkah. Kita diajak untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merefleksikan diri, sudah sejauh mana kita menebarkan kebaikan dan menjaga keharmonisan di dalam kehidupan bersama,"

pungkasnya, menutup sambutan yang hangat itu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar