Fasilitas kesehatan di Pulau Tunda dan Pulau Panjang, Kabupaten Serang, kembali jadi sorotan. Kali ini, anggota DPRD setempat, Muhibbin, yang menyuarakan keprihatinannya. Menurutnya, layanan di kedua pulau itu masih jauh dari memadai dan butuh terobosan kebijakan yang serius.
Ibbin, begitu ia biasa disapa, mengungkapkan fakta di lapangan. Saat ini, hanya ada Puskesmas Pembantu atau pustu. Tapi kehadirannya seperti tak berarti banyak.
"Saat ini hanya terdapat Puskesmas Pembantu (Pustu) sebagai tempat layanan, namun keberadaannya belum menjadi jawaban jika tidak dibarengi dengan tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas setiap hari serta ketersediaan obat-obatan yang memadai," papar Ibbin, Kamis (16/4/2026).
Ia lalu menceritakan sebuah kejadian yang memperkuat argumennya. Tanggal 22 Maret 2026 lalu, di Pulau Tunda, seorang anak berusia 11 tahun tersengat ikan beracun. Situasi saat itu benar-benar kritis.
"Terjadi insiden pada 22 Maret 2026, di mana seorang anak berusia 11 tahun tersengat ikan beracun, namun tidak ada nakes di lokasi untuk memberikan penanganan," ujarnya.
Sebagai Ketua Fraksi Gerindra di DPRD Kabupaten Serang, Ibbin jelas menyayangkan hal ini. Baginya, wilayah kepulauan seperti ini harus dapat perlakuan khusus. Jangan disamakan begitu saja dengan daerah daratan.
"Standar pelayanannya jangan disamakan dengan wilayah daratan. Karena ini wilayah khusus, yaitu pulau. Maka harus ada layanan khusus, termasuk sarana dan prasarananya," tegas Ibbin.
"Kalau di darat dokter banyak, tidak ada Puskesmas masih ada klinik. Nah, kalau di pulau bagaimana?" lanjutnya, menggugah.
Di sisi lain, Ibbin tak cuma mengkritik. Ia juga menawarkan sebuah solusi yang cukup menarik: Puskesmas Terapung. Gagasannya, sebuah kapal yang dilengkapi dokter, alat kesehatan, dan tentu saja obat-obatan.
"Dokter bisa berkunjung seminggu dua kali. Jadi kalau kita punya Puskesmas Terapung, akan ada jadwal rutin ke sana," jelasnya.
Fungsinya bisa lebih dari sekadar kunjungan biasa. Kapal itu juga bisa menjadi sarana evakuasi jika diperlukan.
"Jadi ketika ada warga yang berobat saat jam kunjungan dan membutuhkan penanganan lanjutan, bisa langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan Puskesmas Terapung," katanya.
Menurut Ibbin, kehadiran dokter yang terjadwal secara rutin punya dampak psikologis yang besar bagi warga pulau. Itu memberi mereka ketenangan dan harapan.
"Warga yang sakit, misalnya di hari Sabtu atau Minggu, akan punya sugesti untuk sembuh. Mereka bisa tenang karena tahu hari Selasa dokter akan datang ke pulau," ucapnya menggambarkan.
Intinya, persoalan di pulau-pulau terpencil ini butuh pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar menempelkan kebijakan yang sama seperti di darat, tapi benar-benar memikirkan akses dan keberlanjutan layanan bagi masyarakat yang tinggal di sana.
Artikel Terkait
SNPMB Tetapkan Aturan Busana Formal dan Jadwal UTBK 2026
Dirjen Bea Cukai Blusukan ke Tiga Kantor, Tekankan Integritas dan Target Penerimaan 2026
Direktur PT Sinkos Laporkan Jubir KPK ke Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik
BKI Perkuat Ekspansi Layanan dengan Buka Kantor di Tiongkok