Suara ledakan di Kabul dan Kandahar pada Jumat lalu menandai sebuah titik balik yang kelam. Rentetan keras itu, disusul bunyi jet tempur yang terbang rendah, menggambarkan betapa panasnya situasi. Militer Pakistan baru saja membombardir sejumlah kota besar Afghanistan, termasuk ibu kotanya. Ini adalah klimaks dari berbulan-bulan ketegangan yang akhirnya meledak menjadi apa yang disebut Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, sebagai "perang terbuka".
Menurut sejumlah saksi dan laporan jurnalis di lapangan, serangan udara ini adalah balasan. Sehari sebelumnya, pasukan Taliban di Kabul menyerang pos-pos perbatasan Pakistan. Mereka bilang, itu balas dendam atas serangan udara mematikan Islamabad sebelumnya. Siklus kekerasan ini, sayangnya, terus berputar.
Di Jakarta, perkembangan mencekam ini langsung mendapat sorotan. Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, menyatakan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan bahwa eskalasi militer yang kini mencapai tahap perang terbuka harus jadi perhatian serius bagi Indonesia.
Bagi Dave, situasi ini bukan cuma urusan dua negara tetangga yang berseteru. Implikasinya jauh lebih luas, berpotensi mengganggu stabilitas regional bahkan keamanan internasional. Karena itu, Indonesia tak bisa tinggal diam.
Artikel Terkait
Parma dan Cagliari Bermain Imbang 1-1 di Giornata ke-27 Serie A
Proyek Krematorium Kalideres Dihentikan Sementara Usai Protes Warga
Iran Laporkan Kemajuan Baik dalam Pembicaraan Nuklir dengan AS di Jenewa
Kejagung Ajukan Banding atas Vonis Korupsi Minyak Rugikan Negara Rp9,4 Triliun