Bamsoet: Aksi Teror ke Pengkritik Bisa Rusak Citra Pemerintahan Prabowo

- Jumat, 27 Februari 2026 | 16:10 WIB
Bamsoet: Aksi Teror ke Pengkritik Bisa Rusak Citra Pemerintahan Prabowo

Pemuda ini diancam usai menyatakan pemerintah gagal menjamin hak dasar anak, menyusul tragedi bunuh diri seorang siswa SD di NTT. Terornya tak main-main, bahkan menjalar ke ibunya.

Ketika cerita seperti ini beredar, asumsi publik bisa liar. Bisa muncul tuduhan bahwa pelakunya adalah "orang suruhan" penguasa. Anggapan semacam ini, jika dibiarkan, akan dengan mudah mencoreng wajah pemerintah.

Padahal, setiap presiden selalu berusaha membangun citra positif. Merespons kritik dengan teror? Itu bukan pilihan, sama sekali.

Karena itu, tim Presiden perlu memberi respons terukur. Jangan diam saja. Membiarkan aksi teror ini terus jadi bahan pembicaraan hanya akan mengganggu kondusivitas. Sepertinya, ada aktor intelektual yang ingin memosisikan pemerintah berhadap-hadapan langsung dengan komunitas kritis.

Sekali lagi, fakta menunjukkan Prabowo terbuka pada kritik. Maka, tindakan meneror pengkritik sama sekali tak boleh dibiarkan. Saran saya, staf kepresidenan harus sigap memberi tanggapan resmi setiap kali pemberitaan seperti ini muncul.

Para menteri juga harus hati-hati. Dalam merealisasikan program prioritas, kebijaksanaan mutlak diperlukan. Kecerobohan, apalagi yang disengaja, jangan sampai terjadi. Kesalahan dalam eksekusi program akan berimbas langsung ke Presiden sebagai penggagas.

Ambil contoh program Makan Bergizi Gratis. Gagasannya mulia. Masalah akan timbul saat realisasinya tak memenuhi standar gizi minimal. Hingga kini, program ini masih jadi sasaran kritik. Perbaikan harus terus dilakukan, karena citra Presiden taruhannya.

Di sisi lain, program Koperasi Desa Merah Putih juga menyulut kebisingan. Ada wacana yang dinilai aneh oleh publik: menutup jaringan mini market yang ada dan mengimpor puluhan ribu pick up dari India.

Padahal, industri otomotif dalam negeri sudah memproduksi kendaraan sejenis yang terbukti andal. Kalau impor ini dipaksakan, pemerintah bisa dituding tidak mencintai produk lokal.

Cara terbaik? Hadirkan Kopdes dengan kelebihannya, biarkan tumbuh alami. Untuk urusan pick up, andalkan saja produksi dalam negeri yang sudah jelas-jelas mampu.

Bambang Soesatyo
Anggota DPR RI/Ketua MPR RI ke-15

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar