MURIANETWORK.COM – Ancaman dari Korea Utara kini berubah wajah. Bukan cuma soal berapa banyak hulu ledak nuklir yang mereka punya, tapi yang lebih mencemaskan adalah kemajuan pesat teknologi rudal balistik antarbenua atau ICBM. Dunia internasional mulai benar-benar waswas.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, baru-baru ini mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan. Menurutnya, Korut punya kapasitas untuk memproduksi material nuklir yang cukup untuk 10 sampai 20 senjata baru setiap tahunnya. Dan itu berjalan beriringan dengan pengembangan rudal-rudal jarak jauh mereka yang sepertinya tak terbendung. Kombinasi mematikan ini mengubah ancaman itu dari sekadar masalah regional menjadi ancaman global yang nyata.
“Material nuklir yang mampu memproduksi 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun terus diproduksi, dan teknologi ICBM masih berkembang,”
ujar Lee dalam sebuah pernyataan di Seoul.
Intinya, kata Lee, kemajuan di bidang ICBM ini berarti ancaman Korut sudah melampaui batas Semenanjung Korea. Mereka kini punya kemampuan untuk mengancam target-target di benua lain. Dengan rudal jarak jauh yang bisa dipasangi kepala nuklir, posisi Pyongyang sebagai kekuatan yang mesti diperhitungkan di panggung dunia semakin kuat. Bisa dibilang, daya gentar mereka meningkat signifikan.
Di sisi lain, situasi yang terus memanas ini memaksa Seoul untuk berpikir ulang. Lee menekankan bahwa pendekatan lama seperti tekanan militer atau sanksi ekonomi ternyata kurang efektif. Yang dibutuhkan sekarang adalah strategi yang lebih pragmatis dan realistis untuk mencegah eskalasi.
Dia pun kembali mengusulkan peta jalan perlucutan senjata nuklir Korut dalam tiga fase. Fase pertama akan fokus pada hal-hal yang paling mendesak: menghentikan produksi material nuklir baru, mencegah material itu dijual atau dialihkan ke negara lain, dan tentu saja, menghentikan pengembangan teknologi ICBM.
“Kalau produksi material nuklir tambahan bisa dihentikan dan pengembangan ICBM distop, itu sudah jadi kemajuan yang sangat besar,”
tandas Lee.
Namun begitu, nuklir dan rudal bukan satu-satunya persoalan. Lee juga berjanji akan berupaya menghidupkan kembali perjanjian militer tahun 2018 yang dulu ditandatangani Presiden Moon Jae In dan Pemimpin Korut Kim Jong Un. Perjanjian yang bertujuan mencegah bentrokan dan membangun kepercayaan itu nyaris tak bernyawa sejak 2024, seiring melonjaknya ketegangan.
Bagi Lee, memulihkan jalur komunikasi baik militer maupun diplomatik adalah kunci. Ini penting banget untuk menghindari salah paham atau salah perhitungan yang bisa memicu konflik terbuka. Dia juga berkomitmen akan melibatkan Amerika Serikat dalam upaya membuka kembali dialog yang sudah lama mandek itu.
Artikel Terkait
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik