Penyintas Banjir Pidie Jaya Bersyukur di Huntara, Berharap Segera Dapat Hunian Tetap

- Minggu, 15 Maret 2026 | 19:30 WIB
Penyintas Banjir Pidie Jaya Bersyukur di Huntara, Berharap Segera Dapat Hunian Tetap

Semangat untuk bangkit itu masih terasa, meski mereka kini tinggal di hunian sementara. Di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, para penyintas bencana perlahan mencoba menyusun kembali kepingan hidup mereka.

Yuliana, warga Dusun Meunasah Krueng, adalah salah satunya. Rumahnya hanyut tak bersisa diterjang banjir. Kini, bersama suami dan ketiga anaknya, ia menghuni sebuah unit huntara di Manyang Lancok.

"Sebelum puasa kami sudah di sini, hampir sebulan lah," ujar Yuliana.

Ia bercerita, sebelum pindah ke bangunan sementara ini, keluarganya harus bertahan di tenda pengungsian yang didirikan di pinggir jalan. "Di sana banyak debu, bising. Kalau di sini sudah lebih baik, tidak berdebu lagi," katanya saat ditemui Kamis lalu.

Bencana itu tak cuma merenggut tempat tinggal. Sumber penghidupan keluarga itu pun ikut lenyap. Rumah Yuliana sekaligus adalah warung kelontong kecil mereka. Semuanya habis dibawa arus.

"Rumah saya sudah tidak ada lagi. Barang-barang habis semua. Saya jualan di depan, kami tinggal di belakang," tuturnya dengan suara lirih.

Lalu ia menyambung, "Semua terbawa arus. Tidak ada yang tersisa."

Namun begitu, di tengah kepiluan itu, ada rasa syukur yang ia pegang. Huntara, meski sederhana, jauh lebih layak dibanding tenda. Setidaknya mereka punya atap yang tetap untuk berteduh.

Tentu, suasana di sini berbeda dengan kampung halaman. Siang hari terik panas menyengat, jauh dari sejuknya udara desa mereka dulu. Malam hari justru berubah dingin, sering diramaikan oleh celoteh dan tawa anak-anak yang bermain.

"Kalau siang memang panas," akunya. "Tapi kami tetap bersyukur. Setidaknya sudah ada tempat."

Perjuangan mereka belum usai. Hidup di huntara berarti harus mandiri memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan umumnya fokus pada tempat tinggal dan fasilitas dasar. Untuk urusan lauk-pauk dan kebutuhan lain, sering kali harus dicari sendiri.

"Kadang ada bantuan dari pemerintah atau orang-orang baik yang datang melihat kondisi kami," ungkap Yuliana.

Namun, itu tidak rutin. "Penghasilan sudah tidak ada lagi. Usaha kami hanyut semua," sambungnya, menggambarkan betapa sulitnya keadaan.

Di balik semua itu, harapan terbesarnya sederhana: segera punya rumah permanen. Pemerintah disebutkan telah merencanakan program hunian tetap (huntap) bagi warga yang rumahnya rusak berat, dan Yuliana termasuk di dalamnya.

"Kami yang rusak berat akan dapat rumah huntap. Lokasinya sudah diberitahukan," jelasnya. "Ada yang memilih tanah sendiri, ada juga yang di tanah pemerintah."

Bagi Yuliana dan tetangga-tetangganya, huntap bukan sekadar bangunan. Itu adalah simbol harapan, sebuah titik awal untuk memulai hidup dari nol lagi setelah segalanya terhenti oleh bencana.

"Kami berharap bisa segera kembali tinggal di kampung sendiri," katanya. "Itu yang paling kami tunggu sekarang."

Memang, mereka kehilangan banyak hal. Tapi dari huntara yang sederhana itu, semangat Yuliana dan keluarganya bicara lebih keras. Ketangguhan itu nyata. Dan harapan untuk masa depan yang lebih baik, perlahan tapi pasti, terus mereka tata.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar