Di tengah gemerlap minuman kekinian yang membanjiri pasar takjil, ada satu warisan yang tak lekang. Jamu Coro, minuman tradisional asli Demak, ternyata masih punya tempat spesial di hati masyarakat, terutama saat Ramadan tiba. Aroma rempahnya yang khas seolah jadi penanda bahwa bulan puasa telah datang.
Latif, salah satu penjual setia di Jalan Bhayangkara, mengaku usaha ini adalah warisan keluarganya. "Dulu nenek saya yang memulai," katanya. Kini, ia sendiri yang meneruskan. Setiap hari, mulai sore sekitar pukul setengah tiga, gerobaknya sudah siap menyambut pelanggan. Dagangannya berhenti hanya ketika adzan Magrib berkumandang.
"Alhamdulillah, setiap Ramadan selalu ramai. Dalam sehari bisa terjual ratusan porsi,"
ujar Latif pada suatu Kamis di akhir Februari lalu. Senyumnya mengembang, menandakan bahwa tradisi ini masih cukup menghidupi.
Harganya yang merakyat, cuma tiga sampai empat ribu rupiah per gelas, jelas jadi salah satu daya tarik utamanya. Tapi bukan cuma itu. Banyak pembeli yang justru datang karena rindu akan rasa dan kebiasaan. Seperti Dwi Teguh, salah satu pelanggan yang setia.
Artikel Terkait
Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat
Foton eMiler, Truk Listrik dengan Kabin Lapang dan Akselerasi Halus, Siap Operasi di Indonesia
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Seminggu Usai Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,86 Juta per Gram, Harga Buyback Turun Rp42 Ribu