“Rasanya hangat dan pas diminum saat buka puasa. Selain itu, ini minuman tradisional yang jarang ditemui,”
katanya. Bagi dia, Jamu Coro bukan sekadar pelepas dahaga, tapi juga pengingat akan akar budaya.
Minuman ini sendiri punya sejarah panjang, konon sudah ada sejak era Kerajaan Demak. Racikannya sederhana namun penuh khasiat: jahe, merica, dan gula jawa berpadu menciptakan sensasi hangat yang langsung terasa hingga ke kerongkongan. Banyak yang percaya, jamu ini bisa mengembalikan stamina setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Nah, di sisi lain, kemampuannya bertahan di tengah gempuran bubble tea dan kopi kekinian itu justru yang menarik. Keberadaan Jamu Coro membuktikan bahwa selera masyarakat itu nggak cuma satu arah. Di balik tren yang datang dan pergi, selalu ada ruang untuk sesuatu yang autentik, yang punya cerita.
Momentum Ramadan, dengan caranya sendiri, menjadi semacam festival tahunan bagi kuliner tradisional macam ini. Ia adalah kesempatan emas untuk mengingatkan generasi sekarang, bahwa warisan nenek moyang itu rasanya tetap relevan. Dan selama masih ada yang menjual, serta yang membeli, warisan seperti Jamu Coro kecil kemungkinannya akan hilang begitu saja ditelan zaman.
Artikel Terkait
Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat
Foton eMiler, Truk Listrik dengan Kabin Lapang dan Akselerasi Halus, Siap Operasi di Indonesia
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Seminggu Usai Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,86 Juta per Gram, Harga Buyback Turun Rp42 Ribu