Imlek di Nusantara: Lima Tradisi yang Menjadi Jiwa Perayaan

- Selasa, 27 Januari 2026 | 18:45 WIB
Imlek di Nusantara: Lima Tradisi yang Menjadi Jiwa Perayaan

Merayakan Imlek: Tradisi yang Menghidupkan Makna

Tanpa beberapa ritual ini, suasana perayaan terasa seperti ada yang kurang. Inilah yang membuatnya istimewa.

Tanggal 17 Februari 2026 nanti, suasana riuh rendah akan kembali menyapu berbagai sudut. Ya, itu hari pertama Tahun Baru Imlek. Bagi banyak kalangan, perayaan ini bukan sekadar pergantian kalender. Lebih dari itu, ia adalah sebuah mozaik panjang tradisi yang diwariskan turun-temurun, dengan makna yang dalam di balik setiap kemeriahannya.

Di Indonesia, akulturasi telah membentuk corak khasnya sendiri. Beberapa tradisi tetap bertahan, menjadi penanda waktu dan pengikat kebersamaan. Mari kita telusuri beberapa yang paling populer.

Makan Malam Keluarga: Inti dari Segalanya

Mungkin ini tradisi paling sentral. Di malam sebelum Imlek, meja makan menjadi magnet terkuat. Anggota keluarga yang biasanya terpencar oleh jarak dan kesibukan, akhirnya berkumpul. Suasana hangat, tawa, dan cerita-cerita yang tertunda mengisi ruangan.

Maknanya sederhana namun kuat: kebersamaan. Dalam hiruk-pikuk sehari-hari, momen seperti ini adalah penawar rindu yang paling manis. Semua masalah sementara terlupakan, fokus hanya pada kehangatan yang direngkuh bersama.

Angpao: Bukan Sekadar Amplop Merah

Bagi anak-anak, ini salah satu momen paling ditunggu! Memberi dan menerima angpao sudah jadi pemandangan khas. Biasanya, orang yang sudah menikah memberikan kepada yang lebih muda atau yang belum berkeluarga.

Tapi jangan salah, ini bukan sekadar soal uang. Warna merah pada amplop melambangkan energi, kebahagiaan, dan kebaikan. Isinya adalah harapan tulus si pemberi agar penerima mendapatkan keberuntungan dan kesejahteraan di tahun yang baru. Sebuah doa yang dibungkus rapi.

Petasan dan Kembang Api: Pengusir Suasana Suram


Halaman:

Komentar