Untuk produk seperti hampers, persiapan bahkan lebih matang. Stok awal disiapkan hingga sekitar 1.000 paket. Tujuannya jelas: menjaga agar pasokan tidak putus di tengah tingginya permintaan. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran pola pikir yang menarik di kalangan UMKM. Dari yang awalnya cuma responsif, kini mulai beralih ke perencanaan yang lebih matang, atau yang biasa disebut demand planning. Pergeseran ini terutama vital di sektor makanan dan minuman, yang sangat rentan dengan siklus musiman.
Di sisi lain, peningkatan kinerja itu bukan cuma soal persediaan barang. Fitur promosi dari platform e-commerce sendiri punya andil besar. Voucher dan kampanye musiman, seperti program nasional saat Ramadan, terbukti efektif memperluas jangkauan dan mendongkrak angka konversi penjualan.
Tapi ada satu lagi strategi yang cukup jitu: pemasaran afiliasi. Steven Marselie, salah satu pemilik Luckybite, menyoroti dampak aktivitas live streaming yang dilakukan para afiliator.
“Penjualan kami biasanya terdorong kuat saat ada sesi live, terutama di jam-jam malam,” jelas Steven.
Jadi, kombinasi antara perencanaan produksi yang cermat, pemanfaatan fitur promosi platform, dan kolaborasi dengan kreator konten, rupanya menjadi resep ampuh bagi UMKM seperti Luckybite untuk tak hanya bertahan, tapi benar-benar berkembang di momen-momen spesial.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 4,1 Guncang Laut di Maluku Barat Daya
Sidang Vonis Korupsi Pertamina Ricuh, Ditunda hingga Dini Hari
Siswi SMP Dibawa Kabur dan Jadi Korban Pencabulan Usai Dikenal di Grup WhatsApp
Kemenag Tegaskan Zakat Wajib, Ajak Umat Tingkatkan Kedermawanan Melampaui 2,5%