Lapisan berikutnya ya program-program buffer lain: ketahanan pangan, energi, air; stabilisasi harga; hilirisasi; perlindungan sosial. Dalam dunia Dalio, ini adalah benteng menghadapi perang ekonomi global perang pasokan, harga, teknologi yang selalu mendahului konflik terbuka. Negara yang bergantung fatal akan mudah ditekan. Negara yang punya bantalan, punya ruang bernapas.
Di titik ini, politik luar negeri Prabowo menemukan konteksnya. Dalio menulis tanpa basa-basi: di dunia tanpa wasit, power respects power. Netralitas cuma dihormati kalau disertai kapasitas. Politik luar negeri yang non-ideologis, pragmatis, dan bebas-aktif itu bukan tanda kebingungan. Itu strategi bertahan di dunia yang terfragmentasi.
Tapi Dalio juga ingatkan: kekuatan eksternal selalu berakar pada stabilitas internal. Mustahil lahir diplomasi yang berdaulat dari dapur yang bergejolak.
Jadi, modernisasi pertahanan, hilirisasi, ketahanan pangan, MBG, koperasi desa, sampai perlindungan sosial kalau dibaca dalam satu tarikan napas semuanya adalah buffer berlapis. Mereka menahan tekanan dari bawah agar nggak meledak ke atas; dan menahan tekanan dari luar agar nggak langsung menghantam rakyat. Ini bukan jaminan keselamatan Dalio nggak pernah janji itu tapi upaya sadar untuk memperlambat, bahkan membelokkan, fase kehancuran dalam siklus besar.
Ray Dalio mengingatkan kita: nggak ada negara yang kebal dari hukum sejarah. Tapi ia juga kasih pelajaran penting: peradaban bertahan bukan karena satu kebijakan spektakuler. Tapi karena kesediaan merawat fondasi dengan sabar.
Dalam konteks itu, program-program Prabowo layak dibaca sebagai satu kesatuan. Sebuah usaha merawat internal order agar Indonesia nggak masuk dunia yang keras dengan tubuh yang rapuh.
Di zaman ketika aturan mengabur dan kekuatan kembali telanjang, mungkin pertanyaan terpenting bukan siapa yang paling lantang bicara. Tapi siapa yang paling siap bertahan, tanpa kehilangan rasa keadilan. Dan di sanalah, saya kira, ujian sejati peradaban kita akan berlangsung.
Jakarta, 25 Februari 2026
Azis Subekti. Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra.
Artikel Terkait
Salat Jamak: Keringanan Islam dalam Kondisi Tertentu
Gubernur DKI Serukan Pelestarian Budaya Betawi di Tengah Dinamika Jakarta
Adik Bacok Kakak Kandung di Cakung Usai Ditegur Soal Pelecehan
Israel Serang Gaza, Tewaskan 7 Orang Meski Gencatan Senjata Berlaku