Analisis Ray Dalio: Program Prabowo sebagai Buffer Hadapi Dunia Tanpa Aturan

- Rabu, 25 Februari 2026 | 10:25 WIB
Analisis Ray Dalio: Program Prabowo sebagai Buffer Hadapi Dunia Tanpa Aturan

Lapisan berikutnya ya program-program buffer lain: ketahanan pangan, energi, air; stabilisasi harga; hilirisasi; perlindungan sosial. Dalam dunia Dalio, ini adalah benteng menghadapi perang ekonomi global perang pasokan, harga, teknologi yang selalu mendahului konflik terbuka. Negara yang bergantung fatal akan mudah ditekan. Negara yang punya bantalan, punya ruang bernapas.

Di titik ini, politik luar negeri Prabowo menemukan konteksnya. Dalio menulis tanpa basa-basi: di dunia tanpa wasit, power respects power. Netralitas cuma dihormati kalau disertai kapasitas. Politik luar negeri yang non-ideologis, pragmatis, dan bebas-aktif itu bukan tanda kebingungan. Itu strategi bertahan di dunia yang terfragmentasi.

Tapi Dalio juga ingatkan: kekuatan eksternal selalu berakar pada stabilitas internal. Mustahil lahir diplomasi yang berdaulat dari dapur yang bergejolak.

Jadi, modernisasi pertahanan, hilirisasi, ketahanan pangan, MBG, koperasi desa, sampai perlindungan sosial kalau dibaca dalam satu tarikan napas semuanya adalah buffer berlapis. Mereka menahan tekanan dari bawah agar nggak meledak ke atas; dan menahan tekanan dari luar agar nggak langsung menghantam rakyat. Ini bukan jaminan keselamatan Dalio nggak pernah janji itu tapi upaya sadar untuk memperlambat, bahkan membelokkan, fase kehancuran dalam siklus besar.

Ray Dalio mengingatkan kita: nggak ada negara yang kebal dari hukum sejarah. Tapi ia juga kasih pelajaran penting: peradaban bertahan bukan karena satu kebijakan spektakuler. Tapi karena kesediaan merawat fondasi dengan sabar.

Dalam konteks itu, program-program Prabowo layak dibaca sebagai satu kesatuan. Sebuah usaha merawat internal order agar Indonesia nggak masuk dunia yang keras dengan tubuh yang rapuh.

Di zaman ketika aturan mengabur dan kekuatan kembali telanjang, mungkin pertanyaan terpenting bukan siapa yang paling lantang bicara. Tapi siapa yang paling siap bertahan, tanpa kehilangan rasa keadilan. Dan di sanalah, saya kira, ujian sejati peradaban kita akan berlangsung.

Jakarta, 25 Februari 2026

Azis Subekti. Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar