Membaca tulisan Ray Dalio itu selalu pengalaman yang khas. Bukan cuma bukunya yang tebal, tapi juga esai-esainya yang dingin, bahkan unggahan panjangnya di media sosial. Satu hal yang saya tangkap: Dalio nggak nulis buat hiburan. Ia menulis untuk membongkar.
Dia bukan peramal. Yang ia lakukan adalah membuka pola-pola masa lalu yang terus berulang, cuma dengan wajah yang berbeda-beda. Makanya, ketepatan gagasannya jarang terasa seperti kebetulan. Itu lebih mirip hasil dari kesetiaannya membaca sejarah sebagai siklus bukan dongeng heroik yang tamat.
Pembahasannya sering melampaui ekonomi. Dalio bicara soal peradaban. Bagaimana sebuah negara bisa bangkit saat berhasil menyeimbangkan kekuatan dan keadilan. Sebaliknya, ia runtuh ketika ketimpangan dibiarkan, legitimasi menguap, dan rakyat merasa asing di sistemnya sendiri.
Bagi Dalio, ekonomi cuma gejala. Akar masalahnya ada di internal order, atau justru ketiadaan tatanan internal itu.
Baru-baru ini saya baca lagi tulisannya yang panjang. Ia menyatakan dengan blak-blakan: tatanan dunia pasca-1945 sudah runtuh. Kita sekarang masuk fase great power politics. Hukum internasional melemah, konsensus global retak, dan kekuatan kembali jadi bahasa utama.
Ini, dalam istilah Dalio, adalah tahap lanjut dari Big Cycle. Konflik eksternal berjalan beriringan dengan keretakan internal. Negara yang gagal mengurus dapur sendiri bakal terseret atau dipaksa memilih dalam pertarungan yang bukan buatan mereka.
Ambil contoh Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini sering dicap populis. Padahal, Dalio berulang kali bilang, negara runtuh bukan karena kurang ide besar, tapi karena mengabaikan kebutuhan paling dasar.
Rakyat yang lapar nggak punya kesabaran historis. Negara yang gagal jaga isi dapur rakyatnya akan kehilangan legitimasi jauh sebelum kedaulatannya hilang. Program ini bekerja di tubuh sosial bangsa: mencegah kemarahan laten agar nggak meledak jadi konflik politik. MBG bukan cuma soal memberi makan balita atau anak sekolah. Ia lebih dari itu membangun ekosistem ketahanan pangan, menggerakkan ekonomi akar rumput. Sebuah buffer multifungsi.
Di atasnya, ada Koperasi Desa Merah Putih. Ini berfungsi sebagai penyangga struktural. Dalio mengingatkan, konsentrasi kekayaan dan kendali ekonomi yang ekstrem adalah pemicu utama internal disorder. Koperasi desa bukan romantisme masa lalu. Ia adalah mekanisme distribusi kekuatan ekonomi kepemilikan, bukan sekadar pendapatan. Agar pertumbuhan nggak cuma jadi cerita segelintir elit yang disaksikan dari pinggir.
Artikel Terkait
Pelajar 16 Tahun di Kelapa Gading Diduga Tewaskan Kakak Kandung dengan Palu
Verifikasi Peserta Mudik Gratis DKI 2026 Resmi Dibuka Hari Ini
Pria Meninggal Dunia Diduga Sakit di Pos Ronda Cibinong
Gubernur Kalteng Buka Ramadan Cup 2026, Siapkan Pembangunan Stadion Mantikei