Ia pun mengimbau agar pengguna media sosial lebih bijak. Jangan sampai keinginan untuk viral atau menambah followers membuat seseorang menghalalkan segala cara, termasuk menyebar hoaks.
"Saya mohon, jangan karena pingin videonya fyp, followersnya bertambah, lalu melakukan pengeditan seperti itu. Saya rasa itu hal yang tidak baik dan tidak penting," seru Hoho.
Terakhir, ia berpesan agar publik tidak mudah percaya. Setiap melihat konten mencurigakan, cek dulu jejak digitalnya. Telusuri sumber aslinya. Video menteri itu sudah lebih setahun, sementara isu ini baru dimunculkan. "Saya mohon, stoplah untuk hal-hal kayak gitu," pungkasnya.
Penjelasan Hoho ini langsung mendapat respons dari warganet. Banyak yang menyayangkan beredarnya hoaks tersebut dan meminta maaf karena sempat terkecoh.
"Berarti saya salah ikut komentar. Saya minta maaf. Saya suka sepak terjang Kades Hoho dalam membangun. Maka kalau ada yang menjelekkan, saya tidak terima," tulis seorang netizen bernama Wa Gino.
"Sejak adanya FB pro, banyak orang menghalalkan segala cara demi cuan yang tak seberapa dibanding dosa fitnahnya," komentar akun Vict.
"Alhamdulillah baru tahu setelah penjelasan Mas Kades. Dari awal aku udah nggak yakin atas video tersebut karena yang dituju pegawai, bukan Kades. Matur suwun atas informasinya," timpal Den Sugeng Indragiri.
Jadi, sudah jelas. Kasus ini adalah contoh nyata betapa cepatnya hoaks menyebar dan mengaburkan fakta. Pesannya sederhana: jangan mudah share sebelum klarifikasi.
Artikel Terkait
Anggota DPR Kritik Wacana War Ticket Haji, Khawatirkan Keadilan dan Tata Kelola Keuangan
Mengenal Uang Kartal dan Giral: Perbedaan Penerbit, Bentuk, dan Kekuatan Hukum
Proyek Jalan Desa di Pandeglang Rampung, Namun Bronjong Penahan Tanah Alami Penurunan
BTN Siapkan KPR Bundling, Biayai Rumah dan Perabotan dalam Satu Akad