Pernyataan Cosijn ini sejalan dengan sikap ketua INTA, Bernd Lange. Sehari sebelumnya, Lange sudah menyuarakan kekhawatirannya. Menurutnya, kebijakan tarif AS belakangan ini justru menciptakan “kekacauan dan ketidakpastian”.
“Syarat dan dasar hukum untuk paket kesepakatan Turnberry sudah berubah,” tegas Lange.
Karena itu, Lange berencana mengusulkan penangguhan proses legislatif yang sedang dijalani tim negosiasi parlemen. Usul itu akan berlaku sampai evaluasi hukum yang komprehensif selesai dilakukan. Tak hanya itu, Lange juga menunggu komitmen yang lebih jelas dan konkret dari pihak Amerika Serikat.
Gelombang penundaan ini rupanya tak datang dari ruang hampa. Ia muncul menyusul putusan penting Mahkamah Agung AS baru-baru ini, yang membatasi wewenang presiden dalam menggunakan kekuasaan darurat untuk menerapkan tarif secara luas. Banyak pengamat melihat putusan itu sebagai pukulan bagi strategi tarif Presiden Donald Trump dan secara tak langsung, mengacak-acak papan catur yang jadi landasan kesepakatan Turnberry.
Jadi, sekarang semuanya tergantung pada meja negosiasi. Sambil menunggu kejelasan dari seberang Atlantik, proses di Brussel pun terpaksa dipelankan.
Artikel Terkait
Vonis Kasus Korupsi Minyak Rp 285 Triliun Dijadwalkan Kamis Depan
Program Makan Bergizi di Serang Berlanjut, Siswa Terima Paket Bahan Makanan untuk Buka Puasa
Dua Belas Tokoh Elite Daftar sebagai Amicus Curiae Dukung Enam Terdakwa Korupsi Minyak
Menteri Luar Negeri Lebanon Khawatir Infrastruktur Vital Jadi Sasaran Jika Ketegangan Israel-Iran Meledak