Pernyataan Cosijn ini sejalan dengan sikap ketua INTA, Bernd Lange. Sehari sebelumnya, Lange sudah menyuarakan kekhawatirannya. Menurutnya, kebijakan tarif AS belakangan ini justru menciptakan “kekacauan dan ketidakpastian”.
“Syarat dan dasar hukum untuk paket kesepakatan Turnberry sudah berubah,” tegas Lange.
Karena itu, Lange berencana mengusulkan penangguhan proses legislatif yang sedang dijalani tim negosiasi parlemen. Usul itu akan berlaku sampai evaluasi hukum yang komprehensif selesai dilakukan. Tak hanya itu, Lange juga menunggu komitmen yang lebih jelas dan konkret dari pihak Amerika Serikat.
Gelombang penundaan ini rupanya tak datang dari ruang hampa. Ia muncul menyusul putusan penting Mahkamah Agung AS baru-baru ini, yang membatasi wewenang presiden dalam menggunakan kekuasaan darurat untuk menerapkan tarif secara luas. Banyak pengamat melihat putusan itu sebagai pukulan bagi strategi tarif Presiden Donald Trump dan secara tak langsung, mengacak-acak papan catur yang jadi landasan kesepakatan Turnberry.
Jadi, sekarang semuanya tergantung pada meja negosiasi. Sambil menunggu kejelasan dari seberang Atlantik, proses di Brussel pun terpaksa dipelankan.
Artikel Terkait
Kapolda Riau Serukan Kewajiban Moral Kolektif dalam Festival Seni Konservasi Gajah
12 Pejabat Tulungagung Diperiksa KPK di Jakarta, Termasuk Adik Bupati
KPK Tetapkan Bupati Tulungagung Tersangka, Sita Uang Rp335 Juta dan Sepatu Louis Vuitton Rp129 Juta
KPK Ungkap Kepala OPD di Tulungagung Terpaksa Berutang Penuhi Jatah Bupati