Ia juga berharap pertemuan ini bisa berjalan tanpa terlalu banyak campur tangan keluarga. Baginya, keputusan terbaik harus datang dari mereka yang benar-benar menjalani hubungan ini. Keterlibatan banyak orang seringkali malah bikin persoalan makin ruwet dan subjektif.
"Kalau bisa keluarga nggak usah ikut-ikut dulu," tegas Insan.
Namun begitu, ia tak menampik bahwa dinamika komunikasi mereka belum sepenuhnya cair. Rasa kecewa yang belum tuntas, itu yang ia pahami. Makanya, Insan tak mau memaksakan pertemuan agar cepat terjadi. Proses yang alami, menurutnya, jauh lebih baik daripada keputusan yang dipaksakan dan terburu-buru.
Ia menilai, diskusi bertiga ini bisa jadi momen penting untuk klarifikasi. Banyak kesalahpahaman yang mungkin bisa diluruskan saat masing-masing pihak bisa menyampaikan sudut pandangnya sendiri. Lebih dari itu, pertemuan ini diharapkan bisa memberi kepastian soal masa depan anak mereka. Insan tak mau konflik yang berlarut-larut akhirnya berdampak pada kondisi psikologis buah hatinya.
Untuk sekarang, bola sepenuhnya ada di tangan Mawa. Publik hanya bisa menunggu, apakah ajakan untuk duduk satu meja ini bakal diterima atau tidak.
Di tengah segala spekulasi yang beredar, Insan memilih untuk tetap tenang. Ia cuma berharap, komunikasi yang baik bisa membuka babak baru dalam hidupnya. Semua masih tanda tanya, tapi setidaknya sudah ada usaha.
Artikel Terkait
Kompolnas Apresiasi Pemecatan Oknum Brimob Pelaku Kekerasan di Tual
Ketua Komisi III DPR Sesalkan Penetapan Tersangka Guru Honorer Probolinggo Gara-gara Rangkap Jabatan
Tiga Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Bersikukuh dengan Analisis 99,99%
Korlantas Siapkan Pos Pemeriksaan Terpadu Bus dan Travel untuk Operasi Ketupat 2026